• Home
  • About
  • Galeri
  • Buku
  • Pengalaman
facebook twitter instagram pinterest bloglovin Email

PEYHOME

HIDUPAKN HIDUPMU!

Perubahan dan Problematika Lingkungan
Oleh: Paelani Setia
Image result for perubahan lingkungan
Ketika berbicara perubahan sosial tentunya berbicara tentang teori perubahan sosial yang merupakan salah satu teori sosial penting dalam kajian sosiologi. Perubahan sosial yang terjadi pada masyarakat, seperti; nilai-nilai sosial, kelembagaan kemasyarakatan, struktur masyarakat, kekuasaan dan wewenang, interaksi sosial, menjadi perhatian teori sosial ini.
Soejono Soekanto, secara garis besar menjelaskan sumber perubahan sosial yang berasal dari dalam masyarakat/internal dan luar masyarakat/eksternal. Faktor Internal; perubahan kependudukan, penemuan, konflik dalam masyarakat, terjadinya pemberontakan atau revolusi. Faktor eksternal ini meliputi antara lain, peperangan dengan negara lain, pengaruh kebudayaan masyarakat lain, perubahan dari lingkungan alam fisik yang ada di sekitar manusia.
Setiap proses perubahan dalam masyarakat ada faktor pendorong yang mempercepat terjadinya perubahan, serta faktor penghambat yang memperlambat ataupun bahkan menghalangi terjadinya perubahan sosial itu sendiri.
Faktor-faktor pendorong perubahan sosial; kontak dengan kebudayaan lain, sistem pendidikan yang maju, keinginan untuk maju, sistem terbuka lapisan masyarakat, penduduk yang heterogen, ketidakpuasan masyarakat terhadap bidang-bidang kehidupan tertentu, orientasi ke masa depan.
Suatu perubahan sosial berdampak pada terciptanya tatanan baru dalam masyarakat, yakni dampak positif dan negatif. Dampak positif, adanya kemudahan dalam komunikasi. Dampak negatif, ditandai dengan adanya tindak kriminalitas, konflik sosial, gengsi jadi ukuran. Selain itu yang terpenting adalah perubahan yang berdampak pada ekosistem kehidupan atau lingkungan. Ini snagat penting karena lingkungan adalah tempat tinggal manusia yang setiap saat manusia bersinggungan dengan lingkungan.
Kehidupan manusia   tidak   bisa   dipisahkan  dari   lingkungannya. Baik lingkungan alam maupun lingkungan sosial. Kita bernapas memerlukan udara dari lingkungan. Kita makan, minum, menjaga  kesehatan, semuanya memerlukan lingkungan. Maka berarti, lingkungan merupakan bagian penting dari kehidupan manusia.
Seringkali lingkungan yang terdiri dari sesama manusia disebut juga sebagai lingkungan sosial. Lingkungan sosial inilah yang membentuk sistem pergaulan yang besar peranannya dalam membentuk kepribadian seseorang. Secara khusus, kita sering menggunakan  istilah lingkungan hidup untuk  menyebutkan  segala sesuatu yang berpengaruh terhadap kelangsungan  hidup segenap makhluk hidup di bumi.
Perubahan  sosial  lebih  mengarah  kepada  modernisasi  dan globalisasi  karena manusia lebih menginginkan hal yang sederhana, simple, mudah dan instan.  Berkembangnya modernisasi dan globalisasi inilah yang menjurus pada industrialisasi. Semakin modern suatu negara akan semakin banyak  pula  industri yang ada di negara tersebut. Namun banyak negara yang kurang memperhatikan dampak negatif dari sebuah industri. Industri tidaklah buruk. Karena  dengan  industri  kita  tidak  perlu  lagi  mengantri  membuat  pakaian, sepatu, ataupun membuat makanan ringan.  Melalui industri hal kecil hingga hal besar dapat kita miliki tanpa perlu membuatnya sendiri.
Jika kita balik ke masa lalu, manusia hidup dengan sistem barter. Andai saja saat ini sistem barter masih menjadi cara bertahan hidup manusia, apakah kebutuhan kita  akan terpenuhi semuanya? Tentu saja tidak. Dengan hanya sistem barter, kita tidak akan mengenal HP, laptop, motor, dan mungkin kita  juga  tidak  mengenal  pakaian  karena  tidak  ada  industri  yang  dapat memproduksi mesin jahit.
Sangat banyak keuntungan dari industrialisasi. Namun di sisi lain sebenarnya   industrialisasi memiliki dampak merusak lingkungan alam. Limbah-limbah  industri  yang  tidak  dapat  diolah  menjadi sebab  kerusakan lingkungan.  Misalnya  saja  limbah  pabrik  yang  dibuang  di  sungai  sekitar pabrik. Yang  pada  awalnya  suangi  tersebut  banyak  hidup  ikan  yang  bisa diambil warga, mejadi tercemar dan banyak ikan yang  mati.  Sungai  yang awalnya  digunakan  warga  untuk  bertahan  hidup  jelas  tidak  akan bisa digunakan lagi.
Untuk membuka lahan perindustrian pun harus mengorbankan lahan yang ada. Bisa kita lihat disekitar kita, untuk membuka suatu lahan perindustrian  harus  mengorbankan  hutan  maupun  sawah  yang  ada. Untuk Indonesia sendiri pembangunan berkelanjutan belum benar-benar dilaksanakan.
Semakin banyak industri akan semakin sedikit lahan pertanian maupun hutan. Hal ini akan mengakibatkan pemanasan global. Selain itu buruknya  drainase  atau  sistem  pembuangan  air  dan kesalahan  dalam menjaga daerah aliran sungai, akan mengakibatkan banjir. Biasanya masyarakat yang tinggal dibantaran sungai kurang memiliki kesadaran untuk tidak membuang sampah ke dalam sungai. Kerusakan hutan baik karena pengalih fungsian lahan maupun karena penebangan liar untuk industri dapat  berakibat terjadinya  bencana  tanah longsor. Selain itu penimbuna rawa-rawa untuh daerah pemukiman juga dapat merusak lingkungan. Seperti yang kita ketahui, masih banyak pabrik yang mengeluarkan polusi udara tanpa ada penyaringan. Terlebih lagi semakin hari semakin banyak kendaraan bermotor yang menambah polusi udara.

Daftar Rujukan:
Soekanto, Soerjono. Sosiologi Suatu Pengantar, Jakarta, Rajawali Press, 1992.

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

Meta Theory
Oleh: Paelani Setia
Image result for meta theory ritzer

Meta theory bermakna proses akumulasi (penyatuan) teori yang bersandar pada proses analisis refleksi (aplikasi) terhadap teori-teori yang berkembang dalam sosiologi. Sebetulnya dalam ilmu antropologi dibahas adanya proses evolusi dalam masyarakat:
Difusi
1.       Akulturasi
2.       Asimilasi
3.       Inovasi
4.       Discovery

Hal tersebut sebetulnya sama halnya dengan meta theory (atau disebut pula ‘metasosiologi’) dalam sosiologi. Dalam meta theory terdapat tujuan:
1    1. Alat untuk memperoleh pemahaman tentang teori;
Fungsi ini menggunakan akal sebagai instrument dasarnya, karena proses pemahaman tentunya menggunakan akal. Selain itu, ilmu pengetahun yang sistematis juga digunakan sebagai dasar dimana hal tersebut penting karena paradigma ilmu pengetahuan Kuhn juga sistematis. Akal juga diperlukan dalam pembentukan sikap pemaknaan sehingga teori yang ada harus sesuai dengan proses penerapannya agar tidak terjadi mal-teori (penyalahgunaan teori). Misalnya, Albert Einstein menemukan atom untuk perdamaian, tapi malah disalahgunakan oleh Sekutu untuk mengebom Nagasaki dan Hirosima di Jepang sehingga meluluhlantahkkan semuanya. Oleh karena itu, pemahaman teori dalam sosiologi sangat penting sehingga kita bisa menerapkan teori yang ada sesuai dgn fakta social yang ada dan sesuai porsi dan tempatnya. Teori konflik maka sebaiknya terapkanlah dalam proses analisis masyarakat konflik, jangan campurkan dengan teori lainnya. Seperti, teori Marx yang saat itu kondisi masyarakat sedang berkonflik di Eropa. CW. Mills mengungkapkan teori konflik structural karena pada saat itu di USA terjadi konflik elit dan non elit.

2    2. Mengkaji perkembangan teori;
Pada dasarnya karena objek kajian sosiologi adalah masyarakat yang hidup tdk diam melainkan dinamis maka teori yang diperlukan dalam mengkaji masyarakat pun haruslah dinamis dan menyesuaikan dengan kondisi masyarakat sehingga lahirlah Teori Sosiologi Klasik 1, 2 dan TSM 1, 2. Oleh karena itu perubahan social masyarakat menjadi salah satu kajian sosiologi yang akan menghasilkan teori-teori baru sesuai dengan konsep ilmu pengetahuan. Discovery (penemuan baru) adalah salah satu contoh dalam ilmu antropologi, penemuan akan pembakaran tanah liat yg bisa digunakan untuk membuat genting dan kreasi hiasan salah satunya. Atau penemuan dan inovasi pada sumber makanan singkong yang tidak hanya diolah menjadi nasi singkong saja melainkan juga bisa diolah menjadi kripik, ataupun olahan lainnya.
Begitupun dlm sosiologi teori konflik Marx dipandang tidak relevan lagi di zaman sekarang, karena konflik dalam industry tidak hanya melibatkan dua kelompok ploletariat (buruh) dan borjuis (pemilik modal) saja, melainkan ada pihak (kelompok kepentingan) seperti manajer dan penguasa.

3    3. Mempelajari pada basis persepktif/menciptakan sudut pandang lain;
Dalam konsep Ritzer ada paradigma terpadu yang berdasar pada tiga paradigma sebelumnya. Sudut pandang baru dianggap penting dlm teori sosiologi agar bisa merumuskan fenomena masyarakat secara multi-pandang. Ini yang menjadi ciri bagai mahasiswa sosiologi dimana harus mempunyai sikap sociological imagination  (CW Mills) yang memandang suatu persoalan secara mendalam dan dihubungkan dgn teori yang ada. Misalnya, ketika memahami kemiskinan kita tidak hanya akan berasumsi bahwa itu disebabakan oleh pengangguran atau kemalasan bekerja melainkan kita juga harus berpikir bahwa ada factor besar lain yang melatarbelakanginya seperti kebijakan ekonomi, kebijakan politik, dll. Begitupun dalam memandang korupsi kita tdk bisa hanya menyalahkan factor rakus si pelaku melainkan kita juga harus berpikir tentang system yang ada dlm birokrasi.


Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

Perubahan Sosial dan Masyarakat Post-Industri
Oleh: Paelani Setia
Image result for masyarakat post industri

Kelahiran ilmu sosiologi sangat dipengaruhi oleh peristiwa revolusi industri di Eropa. Revolusi industri bukan kejadian tunggal, tetapi merupakan hasil dari berbagai perkembangan yang saling berkaitan yang berpuncak pada transformasi dunia Barat dari corak sistem pertanian menjadi sistem industri (G. Ritzer: 2014). Hal tersebut berdampak pada perubahan sosial masyarakat. Kingsley Davis (1960) mengatakan bahwa perubahan sosial adalah proses perubahan yang terjadi dalam struktur dan fungsi masyarakat. Misalnya adanya perubahan dalam hubungan antara buruh dan majikan (Lia dan Slamet: 2014).

Ini menunjukkan bahwa suatu masyarakat akan terus berkembang sesuai dengan peradaban dan perkembangan yang terjadi, salah satunya terjadi pada masyarakat industri. Masyarakat industri atau industrialisasi adalah adanya pergantian teknik produksi dari cara yang tradisional ke cara modern, sebuah transformasi yaitu suatu perubahan masyarakat dalam segala segi kehidupan. Dalam bidang ekonomi, industrialisasi berarti munculnya kompleks industri yang besar di mana produksi barang-barang konsumsi dan barang-barang sarana produksi, diusahakan secara massal (Dharmawan: 1986).

Perkembangan industri yang sangat cepat faktanya kembali membawa perubahan yang sangat siginifikan hingga melahirkan istilah baru yaitu masyarakat post-industri. Masyarakat post-industri adalah masyarakat modern yang hidup dengan perkembangan ilmu pengetahuan tinggi, teknologi, dan mobilitas tinggi (Bell: 1972) dengan berbagai alasan.

Pertama, dalam bidang ekonomi yang melandaskan adanya perubahan barang dan jasa karena adanya kemajuan industri. Terdapat bagian pra-industri, industri, dan post-industri. Dalam post-industri ditandai dengan ketergantungan yang tidak hanya pada alam, energi, tetapi juga informasi dan mahalnya jasa serta profesionalitas (Bell: 1972). Kita bisa melihat para pesepak bola dunia yang dibayar sangat mahal karena jasanya seperti C. Ronaldo dan Neymar. Selain itu, dalam pekerjaan pun terjadi adanya spesialisasi seperti di Amerika terdapat White Collar and Blue Collar.

Kedua, adanya inovasi pengetahuan (Bell: 1972). Yaitu membedakan kebiasaan masyarakat industri dan post-industri. Masyarakat Industri sangat erat dengan hubungan orang dengan mesin. Sedangkan, post-industri orang dengan orang. Hal ini berdampak juga pada struktur kekuasaan masyarakat dimana banyak lembaga pendidikan yang melahirkan para ahli, pemikir, dan tokoh dunia dengan inovasi besar seperti Harvard University, MIT, dan Standford University yang melahirkan Apple, Facebook, dan Microsoft. Begitupun di Indonesia, banyak tokoh yang lahir dari dunia institusi terkenal dan melahirkan industri baru seperti (Bukalapak-Ahmad Zacky dan B.J. Habibie) dari ITB.

Ketiga, perkembangan teknologi juga semakin pesat, sehingga mampu dikendalikan oleh manusia. Teknologi menjadi media utama masyarakat post-industri dimana setiap orang paham dan mengerti akan teknologi. Hal tersebut menyebabkan adanya mobilitas tinggi masyarakat melalui teknologi informasi dan komunikasi. Lebih lanjut (Castells: 1996) mengemukakan munculnya multimedia sebagai perpaduan media massa dan komputer dari kultur virtualitas riil (real virtuality). Sebuah sistem dimana realitas itu sendiri (yakni eksistensi simbolik material seseorang) seluruhnya ditangkap, dibenamkan kepada setting imajinasi virtual, di dunia khayalan (screen) yang melaluinya pengalaman dikomunikasikan, tetapi juga kemunculan itu menjadi pengalaman. Berbeda dengan masa lalu yang didominasi oleh ruang tempat (space of places), kini telah muncul ruang aliran (space of flows) dan logika spasial baru. Kita telah hidup di dunia digital ketimbang dunia fisik (meski masih ada), juga kita telah memasuki era waktu tanpa ada batasan (timeless time) misalnya tersedianya informasi dimana saja di seluruh dunia.

Jadi masyarakat post-industri merupakan bagian dari proses perubahan sosial akibat adanya kehidupan yang dinamis dan hubungan perubahan sektor industri dalam industrialisme. Sebuah masyarakat dengan peradaban yang maju dan modern yang identik dengan abad 20. Masyarakat dengan prinsip hubungan timbal balik yang menguntungkan dan efisiensi. Revolusi industri 4.O menjadi salah satu ciri semakin post-industrinya masyarakat dunia dimana teknologi, ilmu pengetahuan, globalisasi, dan pasar bebas menjadi elemen yang disepakati banyak negara di dunia. Mobilitas dan persaingan lahir tanpa mengenal batas spasial dan teritorial. Ekonomi masyarakat suatu negara sangat bergantung kepada negara lainnya.

Referensi:
A, Dharmawan. 1986. Aspek-Aspek dalam Sosiologi Industri, Bandung; Binacipta.
Bell, Daniel. 1973. The Coming of Post- Industrial Society: A Venture in Social Forecasting. New York: Basic Books.
Castells, M. 1996. The Rise Of The Network Society. Oxford: Blackwell.
Ritzer, George, 2014. Teori Sosiologi Modern Edisi Ketujuh, Penerjemah: Triwibowo B.S. Jakarta: Prenadamedia Group.
Rufikasari, Lia Candra dan Slamet Subiyanto. 2014. Sosiologi Peminatan Ilmu-ilmu Sosial, Jakarta: Mediatama.


Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Bio-Terorism: Etika Lingkungan?
Oleh: Paelani Setia


Etika lingkungan hakikatnya adanya keselarasan manusia dan lingkungannya. Ketika keserasian tersebut menjadi tujuan, bagaimanakah menanggapi kebutuhan manusia yang tidak terbatas sedangkan SDA terbatas, tanah terbatas, lahan terbatas, dan jumlah penduduk juga sangat pesat tumbuh (sehari 250 kelahiran). Meskipun reboisasi dilakukan tapi tetap kan tidak bisa semuanya di reboisasi, tetap aja ada lahan yang dibuka untuk pemukiman, pertanian, dll. Lihat saja daerah Pasir Jati Bandung, dulu 1 tahun lalu lahan masih kosong, eh sekarang sudah terpenuhi bangunan kompleks perumahan, dan itu masih kosong karena jarang yang menempatinya, terus buat apa dibangun? Sekarang, bagaimana sih keseimbangan yang dimaksud itu, mungkinkah lingkungan bisa menyeimbangkan diri terhadap penduduk manusia yang semakin banyak? Saya bicara fakta ini ya, bukan menjudge USA. Negara USA menyadari hal tsb sehingga melahirkan banyak film-film yang sebetulnya membangun narasi sebagaian penduduk bumi itu harus di musnahkan, kayak Avengers, atau Superhero lainnya yang seolah-olah merekalah yang paling kuat yang bisa melawan musuh apapun itu baik dari planet ini ataupun dari luar ataupun film yang berhubungan dengan lingkungan kayak Dinosaurus yang memang sudah musnah (itu semuanya ilusi/fiksi). Ataupun hal yang ril mislanya propaganda perang Irak, Israel, ataupun propaganda Ekonomi atas nama lingkungan kayak Freeport yang dikeruk habis-habisan di Indonesia, ataupun penyebaran krisis negara-negara miskin di dunia seperti Etiophia, Zimbabwe, sekarang Argentina, Turki, termasuk krismon 98 Indonesia yang sebetulnya disebabkan oleh penarikan aset AS (sektor non ril) di Asia. Atau kasus lainnya seperti LGBT yang berhubungan dengan penyakit HIV AIDS yang katanya tdk ada obatnya, yang padahal mereka sendiri yang menyebarkannya ke seluruh dunia. Terus mereka sebarkan narkoba yang menghancurkan generasi muda, sebarkan pornografi hancurkan remaja. Mereka indikasikan ada virus flu burung yang menular pada manusia. Belum lagi bicara politik dan hubungan internasional lainnya.

Intinya, sekarang kita berada dalam neo-terorism (ancaman yang sifatnya modern atau tidak ada kekerasan lagi): 1) Social-Neo terorism seperti ancaman LGBT, pornografi, narkoba, game online (bukannya sy gk suka ya cuman jgn berlebihan gitu), terus belum lagi sosmed yang dipakai untuk hoaks dan ujaran kebencian; 2) Political-Terorism, dimana negara-negara disandera secara tertulis politik entah itu di PBB ataupun organisasi lainnya sehingga ketika ada konflik di Palestina atau pun di Rohingya Indonesia tidak bisa turun langsung menyelesaikan konflik karena ada dewan keamanan PBB yang mau tidak mau harus tunduk pada hak veto yang ada, ataupun konflik laut cina selatan yang kental sekali dengan intervensi negara lain; 3) Economical-terorism yaitu sandra ekonomi terhadap negara di dunia yang mau tidak mau negara harus tunduk juga seperti Indonesia pinjam ke IMF-WTO atau negara lainnya, ketika The Feds naikkan suku bunga ya mau gak mau utang semakin berlipat akibatnya apa BI ikut naikkan suku bunga, rupiah anjlok, daya beli ril minnim, BBM naek, listrik naek, dan lain-lain.

Tentunya yang paling penting adalah benteng yang kuat untuk melawannya yaitu nilai ketaatan agama sebagai nilai dasar yang kuat yang setiap hari diamalkan. Islam adalah agama yang sangat sempurna yang mengatur semua hal dalam hidup manusia termasuk hubungan manusia dengan lingkungan dan dengan alam. Menjaga alam dan lingkungan merupakan pilar dasar manusia dengan tugas beribadah kepada Allah Swt tentunya dengan menerapkan Islam secara menyeluruh dalam kehidupan sehari-hari.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

Teori Struktural Talcot Parsons
Oleh: Paelani Setia
Image result for talcott parsons
Keywords:

  •     Grand Theory
  •     Keseimbangan/Equilibrium
  •     AGIL
Teori struktural fungsional yang di ungkapkan oleh Talcot Parsons bersikap grand theory, maksudnya teori ini bersifat general dan besar yang bisa dipakai oleh seluruh masyarakat dunia.
Teori ini menjelaskan bahwa suatu masyarakat terdiri dari sistem yang besar, dimana sistem besar ini dibentuk oleh subsistem-subsistem kecil yang saliang mempengaruhi. Ketika sistem kecil satu rusak maka akan dibantu oleh sistem yang lainnya. Misalnya, suatu negara adalah sistem yang besar, negara terbentuk oleh unsur-unsurnya seperti rakyat, pemerintahan, wilayah, agama, politik, sebagai subsistem yang membentuk negara. Tujuan dari teori ini adalah terciptanya keseimbangan/equilibrium.

Gagasannya yang terkenal adalah konsep AGIL:
A= Adaptation (Adaptasi), dimana suatu subsistem akan beradaptasi dengan subsistem lainnya ketika akan membentuk sistem yang besar. Adaptasi ini penting dilakukan untuk menghindari dan menanggulangi konflik yang terjadi antar subsistem. Misalnya, seseorang akan beradaptasi ketika menjadi bagian dari organisasi yang baru baginya. Adaptasi ini penting supaya dia bisa berkembang dalam organisasi.
G= Goal Attainment (Penyatuan Tujuan), setiap bagian mempunyai tujuan masing-masing dalam sistem yang besar ini, sehingga diperlukan adanya penyatuan tujuan supaya tidak terjadi konflik dan membentuk tujuan baru untuk kepentingan bersama. Misalnya, dalam kelas seorang Kosma diwajibkan bisa menyatukan tujuan setiap anggota kelas.
I= Integration (Integrasi), Integrasi atau penyatuan sangat penting dalam suatu sistem agar tercapai keseimbangan tersebut. Integrasi sangat diperlukan dalam suatu kelas supaya tetap kompak dan tetap seimbang.
L= Latency (Pemeliharaan), pemeliharaan dalam hal ini bertujuan untuk memperkuat keseimbangan tersebut. Contoh mudahnya adalah, kebiasaan mudik lebaran di Indonesia menjadi proses pemeliharaan kebudayaan yang menjadi tradisi setiap tahun. Tujuan untuk berkumpul bersama keluarga di kampung adalah slaah satu bentuk pemeliharaan.

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

TEORI KONTRUKSI SOSIAL (PETER L. BERGER)
Oleh: Paelani Setia
Image result for peter berger

Keywords:       1. Realitas
                          2. Pengetahuan

Realitas adalah produk manusia yang sifatnya terpisah dari keinginan individu. Realitas berdasarkan pengetahuan yang disepakai oleh banyak orang. Misalnya, Di Indonesia, seseorang memegang jenggot dianggap penghinaan, tetapi di Arab sesuatu tersebut dianggap hal yang baik.
Proses siklus realitas dan pengetahuan manusia:
  • Eksternalisasi, artinya adanya suatu produk buatan manusia. Seperti masakan/makanan.
  • Objektivikasi, artinya, artinya sudah diluar dari realitas. Misalnya resep masakan/makanan.
  • Internalisasi, artinya pemahaman (penghayatan) terhadap hasil produk. Dimana resep makanan tersebut adalah hasil pemahaman pengetahuan terhadap produk itu sendiri.

Misalnya, KFC adalah suatu produk makanan (eksternalisasi), karena ada resep awalnya terlebih dahulu (objektivikasi), dan kemudian untuk menyesuaikan kebutuhan dan keinginan pasar maka ada menu-menu baru sesuai dengan selera masyarakat seperti ada KFC rasa rendang, rasa pindang, dll (internalisasi).

Realitas lain:

  • -    Ketika telat tidak diberikan sanksi atau komentar, maka akan menjadi kebiasaan (internalisasi).
  • -   Ketika gandengan tangan laki-laki dan perempuan yang belum menikah (mahasiswa) tidak ada yang melarang, makanya akan menjadi kebiasaan dan norma/nilai yang diikitu oleh orang lain.
  • -    Kompromis= pengorbanan luar biasa dari seseorang terhadap kelompoknya (suicide altruistik E. Durkheim). Misalnya, kepala sekolah di Jepang bunuh diri ketika kapal yg membawa anak didiknya tenggelam di laut.

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Jokowi-JK Bangun Infrastruktur Untuk Kesejahteraan?
Oleh: Paelani Setia


Indonesia merupakan Negara yang sangat kaya akan sumber daya alam, pepatah mengatakan bahwa gemah ripah loh jenawitongkat kayu jadi tanaman bukan sesuatu yang semu tetapi benar adanya.
Namun sayang, kekayaan akan sumber daya alam tersebut tidak ditunjang dengan kekayaan akan sumber daya manusia, tingkat pembangunan kualitas sumber daya manusia dinilai masih sangat lemah, sehingga pengelolaan akan sumber daya alam pun banyak yang dikuasai oleh pihak asing. 
Ironis memang, namun demikianlah faktanya, negeri ini menjadi salah satu negeri yang paling konsumtif, yang lebih ironis lagi adalah kebutuhan akan berbagai bahan pokok pun di impor dari luar negeri. Garam misalnya, negeri yang kaya akan kekayaan maritim ini justru mengimpor garam dari luar negeri karena kelangkaan garam dalam negeri. 

Belum lagi masalah pekik lainnya yang ada, seperti kemiskinan (kesenjangan ekonomi), membuminya korupsi, radikalisme, integrasi, dan masalah internal lainnya.

Serentetan hal tersebut terus dirasakan rakyat negeri ini. Pemerintah sebagai penerus estafet kepemimpinan bangsa khususnya dipimpin oleh presiden Joko Widodo dan wakilnya Jusuf Kalla yang berkuasa akhirnya merancang suatu program yaitu Nawacita (Sembilan Cita-cita), salah satunya adalah program kemandirian ekonomi dengan menggerakkan sektor-sektor strategis ekonomi domestik[1]. 

Program tersebut akan terwujud apabila adanya insfrastruktur (fisik), khususnya infrastruktur penunjang kemajuan ekonomi, seperti jalan tol, jembatan, bandara, dan lain-lain. Infrastruktur sendiri merupakan sistem fisik yang menyediakan transportasi, pengairan, drainase, bangunan gedung, dan fasilitas publik lainnya, yang dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan dasar manusia baik kebutuhan sosial maupun kebutuhan ekonomi. 

Pengertian ini merujuk kepada insfrastruktur sebagai suatu sistem, dimana insfrastruktur dalam sebuah sistem adalah bagian-bagian berupa sarana dan prasarana (jaringan) yang tidak terpisahkan satu sama lain.[2] Lalu, efektifkah program pembangunan insfrastruktur oleh pemerintah ini? Berapa rupiahkah pemerintah mengeluarkan biaya pembangunan ini? Dan seberapa besarkah manfaatnya bagi rakyat?

Seperti yang dikutip dari Republika.co.id.Presiden RI Joko Widodo mengatakan pembangunan insfrastruktur yang terus digenjot pemerintah saat ini dalam rangka mempersatukan Indonesia. Jokowi ingin ada keadilan dalam pembangunan insfrastruktur dari Sabang sampai Merauke. "Kenapa kita bangun infrastruktur besar-besaran, itu karena memang kita ingin anggaran ini fokus, kerjain satu, tapi fokus. 

Untuk apa? Bukan karena masalah ekonomi, mobilitas barang dan orang, tetapi dengan insfrastruktur akan menyatukan kita Indonesia," kata Presiden saat membawakan pidato pada pembukaan Kongres ke-XX Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) di Manado, Rabu (15/11).[3]

Apabila kita menganalisis fenomena pembangunan insfrastruktur yang ada saat ini memang mengalami peningkatan yang sangat signifikan khususnya pembangunan insfrastruktur penunjang, salah satunya sarana penghubung transportasi. Transportasi seperti dikemukakan Nasution (1996:121) adalah pemindahan barang dan manusia dari tempat asal ke tempat tujuan. 

Kegiatan tersebut mengandung tiga hal, yaitu adanya muatan yang diangkut, tersedianya kendaraan sebagai alat angkut, dan terdapatnya jalan untuk dilalui.[4] Adapaun pembangunan penunjang transportasi yang dimaksud seperti jalan nasional sepanjang 2.225 kilometer, jalan tol sepanjang 132 kilometer, dan jembatan 16.246 metetr di berbagai daerah di Indonesia. 

Pemerintah juga sedang membangun ruas rel kereta api, Mass Rapid Transit (MRT), Light Rail Train (LRT), Commuter Line, dan Tol Laut. Selain itu, pembangunan Bandar Udara juga terus dikebut bahkan sudah ada yang diresmikan, begitupun dengan pemenuhan kebutuhan listrik dengan program 35.000 megawatt yang hendak di realisasikan pemerintah.[5]

Pembangunan-pembangunan insfrastruktur tersebut tentunya berasal dari APBN, dengan pengalihan subsidi sektor konsumtif dan peningkatan pajak serta bekerjasama dengan pihak swasta. Pemerintah akan menaikkan anggaran untuk insfrastruktur dari 150-200 triliun menjadi 200-400 triliun, sebuah anggaran yang sangat besar. 

Bersamaan pula dengan utang luar negeri Indonesia yang telah mencapai 3.900 triliun, oleh karena itu Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan jika setiap WNI mempunyai tanggungan hutang sebesar Rp13.000.000./orang.

Pembanguan yang begitu besar tersebut seolah-olah program utama pemerintahan saat ini hingga melupakan program yang lainnya, seperti penegakkan supremasi hukum, radikalisme, korupsi, dan pendidikan. 

Bahkan kontroversi pun terjadi setelah presiden Jokowi menjual berbagai insfrastruktur yang sudah jadi kepada pihak asing dan aseng (seperti Tol Bekasi-Cawang-Kampung Melayu/Becakayu),[6] hingga menjadikan BUMN sebagai jaminan atas besarnya utang luar negeri Indonesia. 

Bahkan, bukan tidak mungkin insfrastruktur-insfrastruktur yang lain pun kemungkinan akan dijual. Disinilah mencuat berbagai fenomena kejanggalan program Nawacita Jokowi yang lebih mengutamakan program ekonomi daripada tatanan pemerintahan yang lebih baik serta perbaikan karakter bangsa. 

Bahkan yang paling mencengangkan adalah timbulnya konstelasi akan ketidakberpihakan pemerintah terhadap rakyat kecil, hal ini setelah adanya pembangunan yang menimbulkan kontroversi seperti Reklamasi Teluk Jakarta, Kota Meikarta, dan Pembangunan Kereta Cepat Jakarta-Bandung.

Secara umum pembangunan insfrastruktur penunjang tersebut sangat berdampak baik bagi masyarakat, seperti cepatnya perpindahan barang dan orang (transportasi), atau meratanya distribusi barang dan jasa, juga adanya peningkatan ekonomi yang tidak hanya berpusat di Pulau Jawa, dan tentunya akan berdampak pada unsur-unsur lainnya. 

Namun sekali lagi, pembangunan besar-besaran insfrastruktur tersebut nampaknya meruntuhkan jati diri bangsa sebagai bangsa yang besar dan kaya. Bagaimana tidak, hutang Negara yang selangit yang digunakan untuk pembangunan infrastruktur kiranya akan memakan korban dengan berpindah kepemilikannya BUMN sebagai aset bangsa, utang yang besar tersebut seharusnya digunakan untuk kesejahteraan rakyat secara langsung. 

Rakyat juga masih merasakan pekik karena masih sulit atas kesejahteraan ekonomi yang digadang-gadang oleh pemerintah, bahkan peningkatan ekonomi Negara pun turun sangat drastis ke-4.88% pada 2017 ini, penurunan yang terburuk sepanjang sejarah demokrasi langsung.

Bagaimanapun juga pemerintah harusnya menyadari bahwasannya kesejahteraan rakyat dan keadilan rakyat menjadi prioritas pembangunan di negeri ini. Pembangunan insfrastruktur yang banyak disana-sini belum tentu dirasakan langsung oleh masyarakat dan berdampak bagus dalam peningkatan ekonomi, apalagi sampai terus menjual aset Negara dengan menambah jumlah utang luar negeri Indonesia. 

Pemerintah juga perlu menekankan pada pembangunan karakter bangsa yang kuat sebagai peningkatan kualitas sumber daya manusia yang berkualitas di tengah persaingan global yang bebas. Program Nawacita yang digagas penuh oleh Jokowi nampaknya merupakan janji kampanye dan program yang ideal serta mewakili program rakyat, namun apalah artinya apabila program tersebut hanya berupa janji-janji politik belaka yang yang tidak dilaksanakan. 

Kepuasan tingkat masyarakat sementara ini memang besar terhadap pemerintahan yang ada, namun hal tersebut sewaktu-waktu akan berubah sesuai dengan keadaan yang dirasakan oleh rakyat. Peran bijak pemerintah juga harus diperbaiki, pemerintah tidak bisa selamanya membodohi rakyat oleh tegak dan megahnya pembangunan insfrastruktur apalagi yang akan dirasakan dampaknya dalam jangka waktu yang panjang dan dijual kepada asing. 

Masih banyak PR pemerintah dalam hal penegakkan supremasi hukum, peningkatan pajak, korupsi, pendidikan yang berkualitas, lapangan pekerjaan, serta perpecahan antar-bangsa yang belum terselesaikan. Cerminan Nawacita akan terus berjalan setidaknya selama 2 tahun kedepan dengan berbagai PR yang ada. Harapan rakyat pun bergantung akan dipenuhinya janji-janji kampanye demi terwujudnya bangsa yang lebih baik.


DAFTAR PUSTAKA

Cakrawijaya, Jurnal Pembangunan Insfrastruktur Pedesaan. 2013. Semarang: Universitas Diponegoro,
Republika.co.id(15/11/2017).
N. Jamaludin. Adon. Sosiologi Perkotaan.2015. Bandung: Pustaka Setia.
Kompas.com(16/08/2017).
Tribun.bisnis.(13/11/2017).
[1] Kompas.com
[2] Cakrawijaya, Jurnal Pembangunan Insfrastruktur Pedesaan, (Semarang: Universitas Diponegoro, 2013)
[3] Republika.co.id(15/11/2017).
[4] Adon Nasrullah Jamaludin, Sosiologi Perkotaan.(Bandung: Pustaka Setia, 2015).
[5] Kompas.com(16/08/2017).
[6] Tribun.bisnis.(13/11/2017)
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Newer Posts
Older Posts

Recent posts

Categories

  • Esai
  • Logo
  • Makalah
  • Opini
  • PPT
  • Recent post
  • Resume
  • Teori
  • Tips-lolos-SBMPTN-cemerlang
  • Tugas

Blog Archive

  • April 2020 (1)
  • Januari 2020 (3)
  • Desember 2019 (1)
  • November 2018 (1)
  • Oktober 2018 (11)
  • Juni 2017 (1)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (11)
  • Maret 2017 (22)

About me

About Me

Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung (Sosiologi)

University of Selangor, Malaysia (Faculty of Education and Social Sciences).

Follow Me

  • facebook
  • Google+
  • instagram
  • pinterest
  • twitter
  • youtube

Created with by ThemeXpose