• Home
  • About
  • Galeri
  • Buku
  • Pengalaman
facebook twitter instagram pinterest bloglovin Email

PEYHOME

HIDUPAKN HIDUPMU!


Hegemoni Gramsci
Image result for gramsci
Antonio Gramsci seorang Marxis, lahir di Ales, Sardinia, Italia, 22 Januari 1891. Gramsci lahir dari keluarga kelas bawah. Gramsci memasuki perguruan tinggi setelah memenangkan perolehan beasiswa di Universitas Turin, tahun 1911. Sejak mahasiswa minatnya dalam bidang politik dan aktivis gerakan sosial mulai tumbuh. Ia menjalani kehidupan seorang aktivis, bekerja pada koran sosialis, di kota itu. Ia terkesan pada gerakan kaum buruh di kota Turin, kemudian mendorongnya berpolitik.
Semula Pemikiran Gramsci dipengaruhi oleh filosof Italia Benedetto Croce. Dari Croce, Gramsci belajar menghargai ilmu sejarah dan membuatnya memahami keterbatasan positivisme. Namun kemudian Gramsci mengkritik Croce sebagai teoritis demokrat-liberal yang tidak berani menarik konsekuensi untuk praxis revolusioner. Dari sinilah ia menjadi Marxis.
Tahun 1922, Gramsci ke Rusia selain belajar juga memperjuangkan penerapan watak demokratis paham sosialisme. Tahun 1924, kembali ke Italia dan melakukan berbagai usaha menciptakan perubahan dan transformasi partai komunis, mengembangkan partai komunis berakar pada gerakan massa.
Tahun 1928, Gramsci dijatuhi hukuman 20 tahun penjara oleh pemerintah fasis, Mussolini. Di penjara itulah Gramsci menuliskan pemikirannya, tentang peran intelektual, hegemoni, hingga masyarakat sipil, yang kemudian dikenal dengan The Prison Notebooks. Gramsci tidak menyelesaikan masa hukumannya selama 20 tahun, sebab, 27 April 1937 ia meninggal dunia di dalam kamar penjaranya di Turin pada umur 46 tahun.
Gramsci hidup pada masa kehancuran revolusi sosial di Eropa Barat dan menyaksikan organisaasi buruh, gerakan sosialis dihancurkan oleh fasisme pada 1922-1937. Ia menyaksikan rakyat petani di tengah menghadapi krisis, lebih memilih fasisme bukan sosialisme. Keprihatinanya sebagai aktifis sosial tercurahkan dalam tulisanya tentang konsep hegemoni.
Istilah Hegemoni berasal dari bahasa Yunani, Hegeishtai, artinya memimpin, kepemimpinan, penguasaan atau kekuasaan yang melebihi kekuasaan yang lain. Gramsci memakai dan mengartikan Hegemoni sebagai; Sebuah pandangan hidup dan cara berpikir yang dominan, yang di dalamnya sebuah konsep tentang kenyataan disebarluaskan dalam masyarakat baik secara institusional maupun perorangan; (ideologi) mendiktekan seluruh cita rasa, kebiasaan moral, prinsip-prinsip religius dan politik, serta seluruh hubungan-hubungan sosial, khususnya dalam makna intelektual dan moral.
Konsep hegemoni Gramsci tak bisa dilepaskan dari bahwa dirinya aktifis dan Marxis. Sebagai aktifis dan Marxis, Gramsci melakukan perjuangan melawan kekuasaan yang feodalis, kapitalis dan fasis. Gramsci mengolah bacaanya pada karya Marx, mengkritisi keberhasilan revolusi Rusia dan memahami pengalamanya sendiri atas kegagalan revolusi di Itali, di mana rakyat ternyata lebih memilih fasis ketimbang sosialis.
Gramsci menjelaskan bahwa hegemoni merupakan sebuah proses penguasaan kelas dominan kepada kelas bawah. Gramsci menunjukan bagaimana teknik penguasa dalam mengekekalkan kekuasaanya tidak hanya lewat kekerasan, politik dan ekonomi, melainkan juga moral, budaya dan intelektual, melalui bentuk-bentuk persetujuan masyarakat yang dikuasai.
Kelas berkuasa tersebut menjaga hegemoninya dilakukan dengan menciptakan suatu konsensus kultural dan politik, melalui serikat pekerja, partai politik, sekolah, media, tempat ibadah dan berbagai organisasi. Sehingga pada akhirnya kelas yang terhegemoni akan mengikuti cara pandang yang dilakukan oleh kelas berkuasa sebagai sesuatu yang biasa.
Praktik hegemoni dilakukan secara terus-menerus terhadap kekuatan oposisi agar mau memilih sikap konformistik, sehingga menimbulkan disiplin diri untuk menyesuaikan dengan yang diputuskan oleh Negara dengan keyakinan bahwa apa yang telah diputuskan Negara tersebut merupakan cara terbaik untuk bertahan dan meraih kesejahteraan.
Setelah tahu hegemoni penguasa, Gramsci mengajak kita untuk melakukan perlawanan dengan counter hegemoni, yang ini menjadi tugas intelektual organik melakukan pendidikan dan menyebarkan kesadaran perjuangan. Dari sinilah muncul istilah perang posisi (perjuangan panjang, membangun aliansi dan melakukan penetrasi) dan perang gerakan (perang frontal, ketika dukungan massa sudah terpenuhi).

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

Meta Theory
Oleh: Paelani Setia
Image result for meta theory ritzer

Meta theory bermakna proses akumulasi (penyatuan) teori yang bersandar pada proses analisis refleksi (aplikasi) terhadap teori-teori yang berkembang dalam sosiologi. Sebetulnya dalam ilmu antropologi dibahas adanya proses evolusi dalam masyarakat:
Difusi
1.       Akulturasi
2.       Asimilasi
3.       Inovasi
4.       Discovery

Hal tersebut sebetulnya sama halnya dengan meta theory (atau disebut pula ‘metasosiologi’) dalam sosiologi. Dalam meta theory terdapat tujuan:
1    1. Alat untuk memperoleh pemahaman tentang teori;
Fungsi ini menggunakan akal sebagai instrument dasarnya, karena proses pemahaman tentunya menggunakan akal. Selain itu, ilmu pengetahun yang sistematis juga digunakan sebagai dasar dimana hal tersebut penting karena paradigma ilmu pengetahuan Kuhn juga sistematis. Akal juga diperlukan dalam pembentukan sikap pemaknaan sehingga teori yang ada harus sesuai dengan proses penerapannya agar tidak terjadi mal-teori (penyalahgunaan teori). Misalnya, Albert Einstein menemukan atom untuk perdamaian, tapi malah disalahgunakan oleh Sekutu untuk mengebom Nagasaki dan Hirosima di Jepang sehingga meluluhlantahkkan semuanya. Oleh karena itu, pemahaman teori dalam sosiologi sangat penting sehingga kita bisa menerapkan teori yang ada sesuai dgn fakta social yang ada dan sesuai porsi dan tempatnya. Teori konflik maka sebaiknya terapkanlah dalam proses analisis masyarakat konflik, jangan campurkan dengan teori lainnya. Seperti, teori Marx yang saat itu kondisi masyarakat sedang berkonflik di Eropa. CW. Mills mengungkapkan teori konflik structural karena pada saat itu di USA terjadi konflik elit dan non elit.

2    2. Mengkaji perkembangan teori;
Pada dasarnya karena objek kajian sosiologi adalah masyarakat yang hidup tdk diam melainkan dinamis maka teori yang diperlukan dalam mengkaji masyarakat pun haruslah dinamis dan menyesuaikan dengan kondisi masyarakat sehingga lahirlah Teori Sosiologi Klasik 1, 2 dan TSM 1, 2. Oleh karena itu perubahan social masyarakat menjadi salah satu kajian sosiologi yang akan menghasilkan teori-teori baru sesuai dengan konsep ilmu pengetahuan. Discovery (penemuan baru) adalah salah satu contoh dalam ilmu antropologi, penemuan akan pembakaran tanah liat yg bisa digunakan untuk membuat genting dan kreasi hiasan salah satunya. Atau penemuan dan inovasi pada sumber makanan singkong yang tidak hanya diolah menjadi nasi singkong saja melainkan juga bisa diolah menjadi kripik, ataupun olahan lainnya.
Begitupun dlm sosiologi teori konflik Marx dipandang tidak relevan lagi di zaman sekarang, karena konflik dalam industry tidak hanya melibatkan dua kelompok ploletariat (buruh) dan borjuis (pemilik modal) saja, melainkan ada pihak (kelompok kepentingan) seperti manajer dan penguasa.

3    3. Mempelajari pada basis persepktif/menciptakan sudut pandang lain;
Dalam konsep Ritzer ada paradigma terpadu yang berdasar pada tiga paradigma sebelumnya. Sudut pandang baru dianggap penting dlm teori sosiologi agar bisa merumuskan fenomena masyarakat secara multi-pandang. Ini yang menjadi ciri bagai mahasiswa sosiologi dimana harus mempunyai sikap sociological imagination  (CW Mills) yang memandang suatu persoalan secara mendalam dan dihubungkan dgn teori yang ada. Misalnya, ketika memahami kemiskinan kita tidak hanya akan berasumsi bahwa itu disebabakan oleh pengangguran atau kemalasan bekerja melainkan kita juga harus berpikir bahwa ada factor besar lain yang melatarbelakanginya seperti kebijakan ekonomi, kebijakan politik, dll. Begitupun dalam memandang korupsi kita tdk bisa hanya menyalahkan factor rakus si pelaku melainkan kita juga harus berpikir tentang system yang ada dlm birokrasi.


Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

Teori Struktural Talcot Parsons
Oleh: Paelani Setia
Image result for talcott parsons
Keywords:

  •     Grand Theory
  •     Keseimbangan/Equilibrium
  •     AGIL
Teori struktural fungsional yang di ungkapkan oleh Talcot Parsons bersikap grand theory, maksudnya teori ini bersifat general dan besar yang bisa dipakai oleh seluruh masyarakat dunia.
Teori ini menjelaskan bahwa suatu masyarakat terdiri dari sistem yang besar, dimana sistem besar ini dibentuk oleh subsistem-subsistem kecil yang saliang mempengaruhi. Ketika sistem kecil satu rusak maka akan dibantu oleh sistem yang lainnya. Misalnya, suatu negara adalah sistem yang besar, negara terbentuk oleh unsur-unsurnya seperti rakyat, pemerintahan, wilayah, agama, politik, sebagai subsistem yang membentuk negara. Tujuan dari teori ini adalah terciptanya keseimbangan/equilibrium.

Gagasannya yang terkenal adalah konsep AGIL:
A= Adaptation (Adaptasi), dimana suatu subsistem akan beradaptasi dengan subsistem lainnya ketika akan membentuk sistem yang besar. Adaptasi ini penting dilakukan untuk menghindari dan menanggulangi konflik yang terjadi antar subsistem. Misalnya, seseorang akan beradaptasi ketika menjadi bagian dari organisasi yang baru baginya. Adaptasi ini penting supaya dia bisa berkembang dalam organisasi.
G= Goal Attainment (Penyatuan Tujuan), setiap bagian mempunyai tujuan masing-masing dalam sistem yang besar ini, sehingga diperlukan adanya penyatuan tujuan supaya tidak terjadi konflik dan membentuk tujuan baru untuk kepentingan bersama. Misalnya, dalam kelas seorang Kosma diwajibkan bisa menyatukan tujuan setiap anggota kelas.
I= Integration (Integrasi), Integrasi atau penyatuan sangat penting dalam suatu sistem agar tercapai keseimbangan tersebut. Integrasi sangat diperlukan dalam suatu kelas supaya tetap kompak dan tetap seimbang.
L= Latency (Pemeliharaan), pemeliharaan dalam hal ini bertujuan untuk memperkuat keseimbangan tersebut. Contoh mudahnya adalah, kebiasaan mudik lebaran di Indonesia menjadi proses pemeliharaan kebudayaan yang menjadi tradisi setiap tahun. Tujuan untuk berkumpul bersama keluarga di kampung adalah slaah satu bentuk pemeliharaan.

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

TEORI KONTRUKSI SOSIAL (PETER L. BERGER)
Oleh: Paelani Setia
Image result for peter berger

Keywords:       1. Realitas
                          2. Pengetahuan

Realitas adalah produk manusia yang sifatnya terpisah dari keinginan individu. Realitas berdasarkan pengetahuan yang disepakai oleh banyak orang. Misalnya, Di Indonesia, seseorang memegang jenggot dianggap penghinaan, tetapi di Arab sesuatu tersebut dianggap hal yang baik.
Proses siklus realitas dan pengetahuan manusia:
  • Eksternalisasi, artinya adanya suatu produk buatan manusia. Seperti masakan/makanan.
  • Objektivikasi, artinya, artinya sudah diluar dari realitas. Misalnya resep masakan/makanan.
  • Internalisasi, artinya pemahaman (penghayatan) terhadap hasil produk. Dimana resep makanan tersebut adalah hasil pemahaman pengetahuan terhadap produk itu sendiri.

Misalnya, KFC adalah suatu produk makanan (eksternalisasi), karena ada resep awalnya terlebih dahulu (objektivikasi), dan kemudian untuk menyesuaikan kebutuhan dan keinginan pasar maka ada menu-menu baru sesuai dengan selera masyarakat seperti ada KFC rasa rendang, rasa pindang, dll (internalisasi).

Realitas lain:

  • -    Ketika telat tidak diberikan sanksi atau komentar, maka akan menjadi kebiasaan (internalisasi).
  • -   Ketika gandengan tangan laki-laki dan perempuan yang belum menikah (mahasiswa) tidak ada yang melarang, makanya akan menjadi kebiasaan dan norma/nilai yang diikitu oleh orang lain.
  • -    Kompromis= pengorbanan luar biasa dari seseorang terhadap kelompoknya (suicide altruistik E. Durkheim). Misalnya, kepala sekolah di Jepang bunuh diri ketika kapal yg membawa anak didiknya tenggelam di laut.

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Pemikiran Max Weber
Oleh: Paelani Setia

Image result for max weber

Max Weber seorang sosiolog modern kelahiran Efrut, Jerman, 21 April  1864. Nama lengkapnya Maxilian Weber. Berasal dari keluarga  menengah ke atas. Kedua orang tuanya memiliki latar belakang dan kecenderungan berbeda, dan itu membentuk karakter pemikiran Weber. Ayahnya politikus kaya, ibunya calvinis saleh. Saat usia 16 tahun, Weber belajar di universitas Heilderberg. Saat perang dunia I, Weber ikut dinas militer. Tahun 1884 kembali kuliah di universitas Berlin. Setelah 8 tahun, lulus, menjadi pengacara dan pengajar di universitas.

Minat Weber berubah ke sosiologi dan ekonomi. Weber lalu mengalami fase gila kerja, yang mengantarkannya menjadi professor ekonomi di universitas Herlburg di tahun 1896. Tahun 1893 dia menikah dengan seorang perempuan bernama Marianne Schnitger. Tahun 1897 ayahnya meninggal dunia. Tak lama kemudian Weber mengalami gangguan syaraf. Baru ditahun 1904 ia pulih dan kembali aktif di dunia akademis, hingga pada akhirnya meninggal dunia pada 14 Juni 1920 akibat sakit pneumonia.

Selain menulis buku dan menjadi dosen, Weber juga membantu mendirikan german sociological society ditahun 1910, konsultan dan peneliti. Rumahnya dijadikan pertemuan pakar berbagai cabang ilmu seperti Georg Simmel, Alfred maupun Georg Lukacs. Weber hidup dimasa pertumbuhan kapitalisme modern, ketika kapitalisme telah berkembang jauh dan menunjukkan eksistensi bentuk dan pola produksi yang telah berubah dengan bentuk awal yang diperhatikan Karl Marx.

Selama hidupnya Max Weber telah banyak menghasilkan karya diantaranya sebagai berikut; Die protestantische Ethik und der ‘Geist’ des Kapitalismus/The Protestant Ethic and the Spirit of Capitalism, Wirtschaft und Gessellschaft/Economy and Society 1920, Gessamelter Aufsatze zur Religionssoziologie/Sociology of Religion 1921, The Theory Social and Economic and Organization, General Economi History, From Max Weber; Essay in Sociology Tokoh-tokoh yang mempengaruhi Max Weber adalah, Karl Marx, Imanuel Kant, Nietzsche dan Wilhelm Dilthey. Banyak teori-teori yang disumbangkannya bagi sosiologi, seperti, teori etika protestan dan kapitalisme, rasionalisasi, tindakan social, birokrasi, sosiologi agama.

Kalau Durkheim mengartikan sosiologi suatu ilmu yang mempelajari fakta-fakta social, Weber mengartikanya sebagai suatu ilmu yang mempelajari tindakan sosial. Weber mulai meninggalkan ketergantungan sosiologi terhadap ilmu alam dan memunculkan metode memahami, verstehen. Menurut Weber, sosiologi bertujuan memahami, verstehen, mengapa tindakan social mempunyai arah dan akibat tertentu. Weber membagi tindakan social kedalam empat bagian, yaitu; tindakan social rasional instrumental, tindakan rasional nilai, tindakan afektif, tindakan tradisional. Weber juga memberikan sumbangan penting bagi sosiologi politik, yaitu kajiannya terhadap kekuasaan dan dominasi. Weber membedakan antara kekuasaan dan dominasi. Suatu dominasi memerlukan legitimasi. Weber membedakan tiga jenis dominasi; dominasi kharismatik, dominasi tradisional, dan dominasi legal-rasional.*


Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Older Posts

Recent posts

Categories

  • Esai
  • Logo
  • Makalah
  • Opini
  • PPT
  • Recent post
  • Resume
  • Teori
  • Tips-lolos-SBMPTN-cemerlang
  • Tugas

Blog Archive

  • April 2020 (1)
  • Januari 2020 (3)
  • Desember 2019 (1)
  • November 2018 (1)
  • Oktober 2018 (11)
  • Juni 2017 (1)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (11)
  • Maret 2017 (22)

About me

About Me

Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung (Sosiologi)

University of Selangor, Malaysia (Faculty of Education and Social Sciences).

Follow Me

  • facebook
  • Google+
  • instagram
  • pinterest
  • twitter
  • youtube

Created with by ThemeXpose