• Home
  • About
  • Galeri
  • Buku
  • Pengalaman
facebook twitter instagram pinterest bloglovin Email

PEYHOME

HIDUPAKN HIDUPMU!

DESA MUKAPAYUNG SEBAGAI DESA WISATA
Disusun Oleh, Kelompok 7:
1. Paelani Setia
2. Muhammad Riza Zulkifli
3. Muhammad Iqbal Maulana
4. Mulyanti
5. Nabila Puspitasari
Rural of Sociology
Jurusan Sosiologi
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
UIN SGD Bandung
2017

A. PENDAHULUAN
Dalam sejarahnya, desa merupakan cikal bakal terbentuknya masyarakat politik dan pemerintahan jauh sebelum Negara Indonesia terbentuk. Sejarah perkembangan desa di Indonesia telah menaglami perjalanan yang sangat panjang bahkan lebih tua dari Negara Republik Indonesia. Sebelum masa Kolonial Belanda, di berbagai daerah telah dikenal kelompok masyarakat yang bermukim pada suatu wilayah atau daerah tertentu dengan ikatan kekerabatan atau keturunan. Pola permukiman berdasarkan keturunan atau ikatan emosional kekerabatan berkembang terus, baik dalam ukuran maupun jumlah yang membentuk gugus atau kesatuan permukiman.
Desa merupakan kesatuan masyarakat kecil seperti sebuah rumah tangga yang besar, yang dipimpin oleh anggota keluarga yang paling diduakan atau dihormati berdasarkan garis keturunan. Pola hubungan dan tingkat komunikasi pun masih jarang atau sangat rendah, terutama di daerah perdesaan terpencil dan pedalaman.
Sebagian besar masyarakat Indonesia hidup pada daerah pedesan yang mana secara stuktural dan administrasi memiliki peranan yang sangat penting bagi perkembangan suatu negara, sebagian besar penduduk desa bermata pencaharian sebagai petani/agraris, namun sebenarnya mata pencaharian penduduk sangat dipengaruhi oleh faktor alam yang ada, berdasarkan mata pencahariannya desa dapat dibedakan menjadi: Desa nelayan, desa agraris, desa perkebunan, desa peternakan, desa industri dan lain sebagamya, namun ciri khas dari desa adalah sifat kehomogenan yang ada pada sistem mata pencaharian penduduknya, walaupun ada beberapa yang bermata pencaharian berbeda (seperti, pedagang, biro jasa dan lain-lain) namun secara nyata hanya satu jenis mata pencaharian yang menonjol dan menjadi ciri khas dari desa tersebut. Corak kehidupan didesa didasarkan pada ikatan kekeluargaan yang erat. Masyarakat merupakan gemeinschaf yang memiliki unsur gotong royong yang kuat.
Secara umum, desa mempunyai gejala yang sama dan bersifat universal, yang terdapat di manapun di dunia ini. Sebagai suatu komunitas kecil, yang terikat pada lokalitas tertentu, baik sebagai tempat tinggal (secara menetap) maupun bagi pemenuhan kebutuhannya, terutama yang bergantung pada pertania. Desa di mana pun cenderung memiliki karakteristik yang sama. Oleh karena itu, ciri utama yang terlekat pada desa adalah fungsinya sebagai tempat tinggal, tanah asal (menetap) dari suatru kelompok masyarakat yang relatif kecil. Dengan kata lain, suatu desa ditandai dengan keterikatan warganya terhadap suatu wilayah tertentu. Keterikatan ini selain untuk tempat tinggal juga untuk menyangga kehidupan mereka.  
. Desa merupakan bentuk pemerintahan dimana masyarakat mempunyai kewenangan mengurus urusan pemerintahannya sendiri. Terkadang banyak desa di Indonesia yang tidak mau di urus oleh pemerintahan yang bernaung diatasnya, mereka ada yang ingin hidup mandiri karena dengan alasan mempunyai adat istiadat yang lengkap dalam pergaulan, norma, dan nilai. Makanya masyarakat desa identik dengan masyarakat yang tertutup dan erat dengan adat istiadat yang sangat dijunjung tinggi oleh masyarakatnya.
Desa mempunyai keunikan dan ciri khasnya tersendiri, desa pada umumnya jauh dari keramaian dan berbagai hingar-bingar kehidupan kota, desa sangat menjunjung tinggi apa yang telah di wariskan oleh leluhurnya. Hamparan pemandnagan yang indah dengan kekhasannya membuat desa terlihat sangat elok, menarik, dan indah dipandang mata. Sehingga mayoritas pekerjaan dari warga desa sangat terlihat sekali dengan memanfaatkan alam sebagai sandaran profesi mereka, tak heran apabila pekerjaan dari masyarakat desa di habiskan di luar dan di alam berbeda dengan masyarakat kota yang pekerjaannya banyak di kerjakan di bangunan-bangunan kantor.
Karakteristik masyarakat desa juga terkenal denga kesopanan, kesantunan, dan perilaku yang baik lainnya. Warga desa umumnya belum terkontaminasi berbagai perilaku yang ada di kota, sehingga mereka sangat menjaga perilaku positif mereka dengan sebaik-baiknya. Kehidupan di desa juga sangat kental sekali dengan gotong royong dan toleransi yang sangat terjaga, sehingga terlihat dari sisi positif mereka terhadap kepercayaan (agama) yang sangat kental, sehingga memunculkan sentimen bahwa masyarakat desa banyak mengutamakan kehidupan akhirat. Selain itu, perubahan sosial masyarakat desa juga sangat berjalan lambat sekali karena pada umumnya mereka tertutup terhadap berbagai kebudayaan yang masuk dan sangat curiga sekali dengan kebudayaan yang menghampiri mereka.
Namun, pada faktanya desa yang kita kenal perlahan-lahan berubah seiring dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Sekarang kita sulit sekali menemukan desa yang benar-benar masih asli menjaga apa yang diwariskan turun-temurun oleh nenek moyang mereka. Kecuali desa yang benar-benar dengan teguh menjaga dan melestarikan warisan nenek moyangnya secara turun temurun dan siap disebut desa kuno, atau primitif. Kehidupan desa sekarang banyak menjadi kehidupan peralihan dari kota, banyak desa yang statusnya bahkan tidka jelas karena desa tradisional bukan kota kecil pun bukan. Sehingga inilah yang menjadi tantangan tersendiri bagi para peneliti dalam menemukan kesulitan terhadap apa yang mereka teliti khususnya tentang desa.
Desa dengan segala keunggulannya khususnya yang berkaitan dengan alam mempunyai banyak sekali potensi yang bisa menjadi sumber penghidupan dan pemenuhan kebutuhannya sehari-hari. Potensi ini terus digali dan dikembangkan sehingga menghasilkan nilai jual yang penting dalam proses pemenuhan kebutuhan. Potensi desa umumnya berpusat pada alam sebagai pendamping kehidupan mereka, tanah yang subur menjadi potensi bagi pertanian yang diolah oleh masyarakat desa, laut yang luas menandakan keterampilan mereka dalam melaut dan memeperoleh ikan, pemandangan alam yang indah sebagai potensi wisata, kuliner yang khas sebagai potensi wisata kuliner, serta sumber daya alam yang terkandung di dalamnya yang menjadi potensi yang selalu ada dalam desa-desa. Potensi-potensi tersebut biasanya diolah dan di kembangkan oleh masyarakat desa itu sendiri dengan mengandalkan berbagai keterampilan yang ada tanpa teknologi yang modern, sehingga ketersediaannya sangat banyak dan terpelihara tidak mudah cepat habis.
Karakteristik masyarakat desa yang terbuka menyebabkan berbagai bencana bagi desa itu sendiri, meskipun bencana tersebut banyak yang berdampak positif juga. Mau tidak mau masyarakat harus menerima berbagai hal yang baru dalam kehidupannya, salah satu contohnya adalah teknologi, dulu di desa sangat sulit sekali ditemui televisi dan handphone, namun sekarang tidak sulit lagi menemukan televisi di desa bahkan para remajanya pun setiap hari dan setiap individu sudah memegang hanphone dan smartphone. Dengan teknologi masyarakat desa jadi tahu dan mengerti terhadap kebudayaan dan gaya hidup di kota, sehingga lambat laun mereka akan melakuan identifikasi, dan imitasi sehingga kehidupan mereka berkembang dan berubah mengikuti alur kehidupan di perkotaan. Hal inilah debetulnya yang menjadi cikal bakal kota-kota baru, meskipun perlahan tetapi fase ini tidak bisa dihindarkan oleh masyarakat desa.
Potensi desa dan keunikan desa yang dimiliki pun perlahan-lahan habis dan banyak di tinggalkan oleh masyarakat desa, ini terlihat dari banyak generasi penerus yang enggan mengurusi pertanian yang di kerjakan secara turun-temurun, mereka lebih memilih untuk migrasi ke kota-kota besar meninggalkan tempat tinggal mereka yaitu desa, banyak juga yang memilih untuk melanjutkan pendidikan ke kota dengan cita-cita yang tinggi dan memperbaiki keturunannya. Potensi desa ini ada yang bertahan seperti pertanian, dan lambat laun juga potensi ini habis seiring dengan pertambahan jumlah penduduk di desa. Hal inilah yang menyebabkan desa-desa sekarang sangat bervariasi sekali dalam segala bidang aspek kehidupan, sehingga menyebabkan adanya stratifikasi sosial masyarakat desa. Potensi masyarakat juga sangat berperan, dimana pekerjaan yang pada awalnya hanya sebagai petani saja, sekarang banyak muncul pekerjaan lain yang ada di desa, seperti guru, pedagang, pengusaha, wirsawasta, dan lain-lain. Begitu juga dengan berbagi keunikan di desa yang perlahan-lahan mulai banyak di tinggalkan, seperti contohnya adalah berbagai kesenian dan budaya yang mulai ditinggalkan pula oleh masyarakat.
Hal tersebut sangat berpengaruh terhadap citra desa hari demi hari, desa sekarang banyak yang berubah transisi menuju desa modern dan desa menuju kota kecil. Industrialisasi juga sangat berpengaruh dimana tidak sulit menemukan desa-desa yang mempunyai industri kecil maupun menengah. Sumber daya manusia yang beragam menjadi ciri khas desa sekarang sehingga tidak hanya melulu padas suatu mata pencaharian atau objek tertentu saja. Juga berdampak pada pendidikan yang terjadi di desa, masyarakat mulai menyadari pentingnya pendidikan formal untuk masa depan, tanpa mengesampingkan pendidikan informal seperti pesantren, pendidikan formal juga banyak di pilih oleh masyarakat desa sekarang. Namun pendidikan yang pada umumnya di minati oleh masyarakat desa adalah pendidikan informal seperti pesantren dan pondok lainnya, alasan menjadi pemuka agama dan menjadi tokoh yang di segani di masyarakat menjadi faktor utamanya mereka banyak lebih memilih pesantren sebagai pendidikan generasi-generasi penerusnya.
Berbagai keunikan dan potensi serta perubahan sosial yang banyak terjadi di desa yang akhirnya menginspirasi kami untuk melakukan observasi langsung ke suatu desa, lokasi desa yang kami pilih adalah Desa Mukapayung, Kecamatan Cililin, Kabupaten Bandung Barat. Ada berbagai alasan kami memutuskan untuk melakukan observasi ke desa tersebut, diantaranya keingingan untuk memajukan daerah asal dengan segala potensi yang ada yang patut untuk dipasarkan ke masyarakat luas. Selain itu, kebutuhan masyarakat akan berwisata sangat tinggi sekali sehingga perlu adanya destinasi wisata lainnya yang tidak hanya itu-itu saja untuk dikunjungi oleh masyarakat luas. Ini jelas membuktikan bahwa desa wisata atau lokasi wisata yang kita ketahui masih sangat sedikit dan banyak sekali lokasi dan potensi wisata yang bagus yang patut di kunjungi ketika liburan tiba.  Selain itu tentunya sebagai seorang mahasiswa dituntut untuk mengerti dan paham kondisi lingkungan di sekitar kita, khususnya di lingkungan masyarakat desa sebagai asal kita hidup. Alasan tersebut yang memperkuat kami untuk melakukan observasi dengan tema Desa Wisata: Mukapayung sebagai Desa Wisata Alami dan Kuliner.




B. DESA MUKAPAYUNG SEBAGAI DESA WISATA
1. Profil Desa Mukapayung
Kecamatan Cililin, Kabupaten Bandung Barat merupakan kecamatan yang berada di timur Ibukota Kabupaten Bandung Barat yaitu Padalarang. Kecamatan ini terkenal sebagai kota wajit, kerupuk gurilem, dan sebagai kota santri. Di sebelah timur kecamatan ini terletak sebuah desa yang menawarkan pemandangan yang kindah dan terkenal dengan wisata kulinernya yaitu desa Mukapayung.
Mukapayung adalah desa di kecamatan Cililin, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, Indonesia. Mukapayung terkenal dengan pemandangannya yang asri dan sejuk, serta beberapa tempat yang bisa dijadikan destinasi wisata.
Desa Mukapayung secara geografis merupakan suatu desa yang terletak di Kecamatan Cililin, Kabupaten Bandung Barat. Desa ini berbatasan dengan desa Rancapanggung di sebelah barat, tepatnya di jembatan Ciminyak, di sebelah selatan berbatasan dengan Dusun Lembang, Desa Batulayang, di sebelah timur berbatasan dengan daerah Citiis, Desa Batulayang dan di sebelah utara berbatasan dengan Dusun Cikoneng, Desa Rancapanggung.
Desa ini berpenduduk kurang lebih 12.000 jiwa, yang dibagi dalam 86 RT, 20 RW, dan 4 Dusun, serta jumlah Kepala Keluarga kurang lebih 3000 KK. Persentasi penduduk ini meliputi semua jenis usia masyarakat yang ada, yang terbagi secara menyebar ke setiap wilayah bagian desa. Penduduknya bermayoritas sebagai buruh tani, pedagang, serta usaha lainnya. Semua penduduknya beragama Islam. Berikut profil desa secara lengkap:
Nama Lengkap Desa : Desa Mukapayung, Kecamatan Cililin, Kabupaten Bandung Barat.
Tipologi Desa : Desa Swasembada.
Batas Wilayah : Jembatan Ciminyak, Desa Rancapanggung (Timur), Dusun Lembang, desa Batulayang (Selatan), Citiis, Desa Batulayang (Barat), dan Dusun Cikoneng, Desa Rancapanggung (Utara)
Jumlah Penduduk : ± 12.000 jiwa, tersebar dalam 86 RT, 20 RW, dan 4 Dusun.
Agama yang Dianut : Islam.
Mata Pencaharian Penduduk : Buruh Tani, Pedagang, Pengusaha, Buruh.
Kesenian Khas : Kesenian khas Sunda seperti, Lengser, Kecapi, dan Pencak Silat.
Ciri Khas Desa : Desa Wisata Alam dan Kuliner, terutama Wahana Wisata Curugan Gunung Puteri dan Rumah Makan Ciminyak.
Kepala Desa : Apendi Supriadi
Luas Wilayah : ± 90 km persegi.
Kode Pos : 40562
Desa ini pada awalnya bersatu dengan desa Rancapanggung, namun seiring bertambahnya penduduk dengan lokasi yang luas akhirnya dimekarkanlah desa tersebut menjadi desa Mukapayung. Desa ini termasuk desa dengan jumlah penduduk dan luas yang besar di kecamatan Cililin selain desa Cililin utamanya.

2. Cerita Sejarah Desa Mukapayung
Suatu ketika, sebuah kerajaan menyelenggarakan sayembara untuk mencari jimat salakadomas. Tak ada yang tahu apa yang melatari penyelenggaraan sayembara itu. "Yang jelas, siapa saja yang berhasil menemukan jimat tersebut, bakal dinikahkan dengan putri raja. Di antara para peserta, terdapat dua ksatria kenamaan kala itu, Mundinglaya dan Ki Jongkrang Kalapitung," tutur A. Ali Suharna (64), tokoh masyarakat sekaligus mantan Kepala Desa Mukapayung. Kami bertemu di dangau (gubuk) Kp. Cibitung Desa Muka Payung, Kec. Cililin, Kab. Bandung Barat, pada (22/04/2017).
Singkat cerita, Mundinglayalah yang berhasil menemukan jimat salakadomas itu. Ia bermaksud mempersembahkan jimat tersebut kepada sang putri. Bersama seorang kawan bernama Munding Dongkol, sang ksatria mencari sang putri. "Rupanya, Ki Jongkrang tahu bahwa jimat itu sudah ditemukan Mundinglaya. Maka, ia segera mengatur siasat jahat," ujar Ali.
Ki Jongkrang memasang perangkap berupa batu di aliran sungai Cibitung. Masyarakat Desa Mukapayung mengenalnya sebagai batu langkob. "Salah satu ujung batu panjang itu disangkutkan di tebing. Sementara, ujung lainnya disanggah dengan tiang batu. Kalau Mundinglaya lewat, batu itu dijatuhkan," katanya.
Rupanya, perangkap itu tak berhasil menjerat Mundinglaya. Malah, Munding Dongkol yang tertangkap. Kedua batu langkob itu, hingga kini, masih ada di aliran Sungai Cibitung. "Yang satu masih utuh, sedangkan yang satu lagi sudah runtuh. Batu langkob itu menjepit batu yang mirip badan kerbau (munding -red.). Masyarakat di sini percaya bahwa itulah Munding Dongkol," ujar Ali.
Ki Jongkrang tak kehabisan akal. Ia memasang cermin besar di barat yang memperlihatkan sang putri tengah tetirah di atas bukit, di bawah payung. Padahal, bukit itu sesungguhnya berada di timur. Bukit itu berada di Kampung Mulka Payung. "Diam-diam, Ki Jongkrang membuat cubluk (lubang septic tank) yang dibubulu (ditutupi) dengan dedaunan dan ranting. Mundinglaya yang gembira bakal bertemu putri, akhirnya terperosok dan tak bisa bangkit lagi," ucapnya.
Tempat Ki Jongkrang meletakkan cermin (eunteung,-red.) itu, oleh masyarakat setempat, dikenal sebagai Leuwi Eunteung. Batu yang dipercaya sebagai Mundinglaya pun, hingga kini, masih ngajugrug (utuh berdiri) di sawah milik Ali Suharna. "Batu ini juga dinamakan Munding Jalu," katanya.
Kecurangan Ki Jongkrang disaksikan sang putri dari puncak bukit. Sang putri lari dan bersembunyi di bukit, tak jauh dari tempat semula. Ia meninggalkan payung yang meneduhinya. Payung– yang menjadi batu– itulah yang dikenal sebagai Mungkal (batu -red.) Payung. "Sementara, bukit tempat putri bersembunyi dinamakan Gunung Putri. Lalu, di lain waktu, seorang nakhoda bernama Demang Karancang bermaksud mempersunting putri itu, tapi tak bisa. Karena itulah, bukit di timur Gunung Putri dinamakan Gunung Karancang. Biasa juga disebut Gunung Nakhoda atau Gunung Kasep Roke," ungkapnya.
Kemudian hari, ketika dimekarkan dari Rancapanggung, desa itu diberi nama Muka Payung. Soalnya, desa tersebut kadang tersohor dengan situs mungkal payung yang berada di Kp. Mulka Payung. "Ada sebuah harapan. Desa ini bisa menjadi seperti payung terkembang," ujar Ali Suharna menandaskan.

3. Karakteristik Desa Mukapayung
Karakteristik desa merupakan suatu hal yang menjiwai dari suatu tempat atau wilayah dimana disana terdapat manusia tinggal dalam memperjuangkan kehidupannya bersama-sama secara gotong royong, dengan memanfaatkan berbagai sumber daya yang tersedia sebaik-baiknya.
Masyarakat desa Mukapayung pada dasarnya adalah sebuah desa pertanian dengan memanfaatkan hasil pertanian sebagai sumber pemenuhan kebutuhan mereka, hal tersebut jelas terlihat dari mayoritas penduduk yang masih bertani dalam kegiatannya sehari-hari. Hamparan sawah yang luas dan tanaman-tanaman yang hijau ditambah pemandangan yang masih asri menandakan bukti besar bahwa desa Mukapayung masih mengandalkan pertanian sebagai komoditas utama kehidupan.
Selain pertanian, letak geografis yang sangat indah dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai tempat wisata untuk menarik para wisatawan yang datang kesana. Mereka mengelola tempat-tempat yang ada dengan seelok mungkin sehingga menjadi wahana wisata yang sangat indah dan berkesan sampai sekarang di mata masyarakat luas.
Namun hal tersebut nampaknya mulai berkembang terlihat sudah mengalami perubahan yang signifikan, ini terlihat dari semakin beragamnya mata pencaharian yang di kerjakan oleh masyarakatnya. Tidak hanya bertani padi dan palawija, masyarakat juga sudah banyak yang mengelola toko, kios dagangan, dan bahkan banyak sudah merintis dan sukses di home industri khususnya industri pakaian perlengkapan Polisi, TNI, dan lain-lain.
Pada umumnya masyarakat desa Mukapayung sama dengan masyarakat Sunda lainnya, mereka masih menjunjung tinggi adat dan kepercayaan yang turun-temurun. Meskipun adat bukan sesuatu yang harus ditaati lagi, tetapi mereka masih terlihat menghormati adat yang ada, khususnya dalam kehidupan gotong royong, tolong menolong dan tutur kata yang sopan dan santun.
Pak Hafidz seorang sekretaris desa yang kami berhasil wawancara pada (22/04/2017) di Balai Desa Mukapayung menjelaskan, “Warga desa tidak mengerti aturan libur dalam sehari-harinya khususnya dalam hal meminta pelayanan publik kepada kantor desa dan atau pemerintahan sebagai pemangku utama dalam mengurusi masyarakat desa. Makanya setiap hari petugas desa bekerja selama 24 jam non-stop sari hari senin sampai hari jum’at. Hal tersebut dikarenakan kebutuhan dan keinginan warga desa dalam memperoleh pelayanan publik berbeda-beda, mereka datang seenaknya saja dengan alasan bahwa baru ada waktu di jam sekian dan baru bisa datang ke kantor desanya jam sekian. Tidak heran juga apabila warga yang butuh pelayanan datang ke rumah kades atau sekdes di malam hari, itikad positif juga ditujukan oleh para petugas/birokrasi desa dimana mereka melayanai dengan sepenuh hati dan ikhlas, inilah sikap toleransi dari masyarakat desa Mukapayung”. Ungkap beliau.
Ia juga menambahkan bahwa “Karakteristik umum lainnya adalah masyarakat desa Mukapayung terlihat terbuka dan tidak menolak perubahan yang datang, meskipun kadang-kadang banyak perubahan yang berdampak negatif bagi para pemudanya, namun itu dirasa sangat lumrah dan universal terjadi dimanapun. Hal tersebut terbukti dengan berbagai perubahan yang semakin cepat terjadi, baik dalam gaya hidup masyarakat, teknologi yang masuk, arus informasi, pekerjaan yang heterogen, dan bentuk bangunan fisik perumahan yang mewah dan fasilitas yang tersedia sangat baik”.
Selain karakteristik dari masyarakatnya, desa Mukapayung juga mendapatkan semboyan sebagai Desa Wisata. Hal tersebut beralasan memang bahwa banyak sekali lokasi wisata yang bisa dikunjungi oleh para wisatawan khususnya wisata alami dan wisata kuliner. Wisata-wisata yang ditawarkan sangat menarik memang, biasanya wisata-wisata ini menjadi destinasi babgi para wisatawan dekat maupun jauh untuk menghabiskan waktunya berlibur di desa ini. Sebut saja, Wisata Kuliner Ciminyak yang sangat popular, yang menyajikan makanan-makanan yang sangat lezat yang cocok untuk disantap bersama keluarga, dengan harga yang terjangkau, serta Wahana Wisata Curugan Gunung Puteri yang menyajikan konsep wisata alami dengan berbagai kelengkapan yang disediakan seperti, tempat berkemah, kolam renang, kuliner, area hiburan, water boom, dan lain sebagainya. Wisata ini juga sangat sering dikunjungi para wisatawan dari berbagai daerah. Tarif yang diberikan pun sangat terjangkau sekali.

4. Mobilitas Sosial Masyarakat Desa Mukapayung
Menurut Paul B. Horton, mobilitas sosial adalah suatu gerak perpindahan dari satu kelas sosial ke kelas sosial lainnya atau gerak pindah dari strata yang satu ke strata yang lainnya.  Dalam hal ini tentunya dipengaruhi oleh adanya perubahan sosial dan adanya pembagian kelas-kelas sosial yang terjadi dalam suatu masyarakat itu senidiri.
Mobilitas sosial masyarakat desa Mukapayung sangat tinggi sekali, hal ini banyak di pengaruhi oleh hal tersebut sangat beralasan sekali karena berbagai faktor yang ada dalam desa Mukapayung itu sendiri. Faktor yang sangat penting adalah sikap masyarakat yang terbuka dalam menerima kebudayaan yang masuk dari luar menjadi dorongan utama terjadinya mobilitas sosial masyarakat desa Mukapayung. Kemudian, didukung oleh faktor penunjang seperti jalan utama dan jalan khusus penghubung tiap Dusun dan RW cukup baik dan memadai untuk dialui oleh roda dua maupun roda empat. Fasilitas jalan yang tersedia sangat merata di berbagai wilayah bagian desa Mukapayung tersebut, bahkan daerah perbatasan seperti Dusun Lembang yang berbatasan dengan Kabupaten Bandung tepatnya daerah Soreang pun sudah di aspal dan cukup baik untuk dilalui meskipun memang menanjak dan curam.
Selain itu mobilitas masyarakat juga didukung oleh dekatnya ke kecamatan utama yaitu Cililin, jarak dari desa ke Kecamatan kurang lebih 5 kilometer, cukup dekat memang apalagi di dukung dengan jalan raya yang bagus dan transportasi massal yang banyak pula. Transportasi seperti Angkot, Madona, dan Elp menjadi pilihan utama masyarakat yang tidak mempunyai kendaraan pribadi ketika bepergian ke pusat kecamatan.
Akses jalan yang bagus juga menunjang bagi wisatawan yang datang untuk berwisata ke desa Mukapayung, dan hasilnya sangat signifikan sekali, akses yang baik mampu membantu bertambahnya jumlah wisatawan yang masuk ke desa Mukapayung. Wahana wisata pun ramai dan sangat menguntungkan hasilnya bagi masyarakat desa.
Dengan demikian, perubahan yang terjadi pun sangat signifikan yaitu khususnya mobilitas sosial vertikal, antargenerasi, intergenerasi, dan geografis. Mobilitas sosial ini terjadi secara bertahap yang menimpa berbagai golongan masyarakat desa Mukapayung.
Mobilitas sosial vertikal umumnya terlihat pada banyaknya perpindahan profesi masyarakat dari kelas sosial rendah ke kelas sosial tinggi, misalnya dari seorang petani akhirnya menjadi seorang pengusaha home industri yang berhasil, atau dari seorang petani biasa dan pengangguran menjadi seorang bisnis man wisata kuliner yang sangat menjanjikan. Mobilitas sosial antargenerasi terjadi dalam masyarakat desa dengan pendidikan sebagai syarat utamanya, banyak masyarakat yang berprofesi petani biasa namun anaknya bisa sukses menjadi pengusaha atau pun pengajar. Mobilitas sosial intergenerasi juga terjadi dalam masyarakat desa, ini terlihat dari perbedaan profesi dalam satu keluarga, anak yang menjadi buruh tani biasa, ada yang menjadi montir bengkel, pengajar, dan atau bahkan pengusaha.
Risiko dengan terbukanya sikap dan perilaku masyarakat dalam suatu wilayah berdampak pada tingginya kualitas mobilitas sosial di masyarakat desa, hal tersebut tidak heran memang karena faktor eksternal (misalnya, wisatawan yang datang) pasti membawa pengaruh budaya luar yang lama-kelamaan akan diikuti dan di terima oleh masyarakat sebagai budaya baru dalam kehidupan mereka. Hal tersebut berdampak positif dan negatif tentunya, semakin tinggi mobilitas masyarakat semakin baik pula kualitas dan tingkat kesejahteraan masyarakat, sedangkan dampak negatifnya adalah budaya yang maskuk tanpa di filter terlebih dahulu akan sangat berbahaya dan bisa menimbulkan adanya kemrosotan moral dan akhlak pada masyarakat, khususnya generasi muda.
 
5. Keunggulan Desa Wisata Mukapayung
Sesuai dengan namanya yaitu ‘Desa Wisata’, desa ini memperkenalkan wisata sebagai tumpuan utama dalam merubah dan meningkatkan kesejahteraan bagi masyarakatnya. Lokasi geografis yang sangat strategis untuk pemanfaatan wisata menjadi modal berharga bagi pemerintahan desa untuk mengelolanya dengan baik. Berikut beberapa keunggulan desa Mukapayung yang akan peneliti bahas:
1. Lokasi Geografis Menyuguhkan Wisata Unik
Tentunya wisata menjadi komoditas utama unggulnya desa Mukapayung diantara desa-desa yang lainnya yang bernaung di kecamatan Cililin. Dua lokasi wisata yang terkenal menjadi suguhan utama dan wajib dikunjungi wisatawan apabila berkunjung ke desa ini.
a. Rumah Makan Ciminyak sebagai Destinasi Wisata Kuliner
Siapa sih yang gak suka makan ikan nila bakar yang sungguh sangat lezat? Ya, di rumah makan Ciminyak yang berlokasi di Jalan Raya Rancapanggung atau lebih tepatnya di pinggir jembatan Ciminyak ini berjajar rumah makan yang sering dikunjungi masyarakat. Menu kutama yang biasanya disajikan adalah ikan bakar, nasi liwet, ayam goring, dan sambal kecap. Menu ini menjadi favorit para pengunjung yang datang, para pengunjung biasanya membludak di hari weekend dan libur, biasanya yang datang bukan hanya dari daerah Bandung Raya saja melainkan pernah ada yang datang dari Jakarta dan Bekasi juga.
Apabila Anda makan di rumah makan ini juga bisa sekaligus melihat pemandangan hamparan luasnya genangan waduk PLTA Saguling, atau bahkan bisa memilih tempat makannya di saung terapung yang sudah disediakan oleh pengelola rumah makan. Biasanya momen makan di rumah makan ini dijadikan momen yang menyenangkan bersama para keluarga atau kegiatan-kegiatan pertemuan penting juga seperti rapat, meeting, dan lain sebagainya. Anda juga bisa berfoto selfie ria dengan memanfaatkan background genangan air yang sangat indah nan hamparan luas.
b. Wahana Wisata Curugan Gunung Puteri
Wahana wisata ini terletak di Kampung Curugan, RT 05/03, Desa Mukapayung. Selain rumah makan Ciminyak, wahana wisata ini juga sudah cukup terkenal di kalangan wisatawan daerah Bandung dan sekitarnya. Nuansa wisata alami dipadukan dengan wisata modern sangat khas di wahana wisata ini. Selain itu, wahana wisata ini juga memberikan pesona pemandangan yang luar biasa yang mengapit wahana wisata ini.
Sesuai dengan namanya “Curugan Gunung Puteri”, wahana wisata ini diambil dari daerah yang tidak jauh dari adanya pegunungan yang membentang di atasnya, yaitu Pegunungan/Gunung Puteri yang menjadi sejarah cerita mitos utama warga desa Manglayang. Di wahana wisata ini terdapat suatu air terjun kecil atau dalam bahasa Sunda disebut ‘curugan’ yang mengalir dari sungai yang mengalir dari Gunung Puteri. Curugan ini yang apada mulanya menjadi destinasi wisata untuk mandi dan berenang karena airnya yang tenang dan arusnya tidak terlalu deras, namun sekarang selain curugan para wisatawan juga memilih destinasi lain yang ditawarkan oleh pengelola wahana wisata ini.
Wahana seperti kolam renang, waterboom untuk anak dan keluarga, tempat berkemah, tempat pertemuan, tempat pesta, restoran makanan khas Sunda, tempat karoeke, masjid, dan tempat peristirahatan menjadi destinasi yang ditawarkan oleh wahana wisata ini.  Selain itu, wahana wisata ini juga dipatok dengan harga yang murah dan terjangkau sesuai wahana yang dipilih untuk bermain dan bersantai.
c. Wisata Pendakian
Selain wisata kuliner dan wisata curugan gunung Puteri, desa ini juga menawarkan wisata pendakian yang sangat menantang. Puncak pegunungan Puteri dan puncak gunung lainha yang ada di daerah Mukapayung dan Rancapanggung. Spot yang indah ditambah dengan pemandangan yang indah menjadi suguhan yang tidak pernah terlupakan.
d. Wisata Bersepeda/Ofroad
Pemandangan yang indah di setiap sisi pegunungan dan jalan desa sangat menarik untuk di lalui menggunakan sepeda. Hal ini, hyang dilakukan banyak wisatawan dengan mengelilingi desa dengan bersepeda bersama-sama. Selain menyehatkan, juga mendapatkan kesan yang luar biasa dengan pemandangan-pemandangan alam yang indah dan menarik untuk dikunjungi.
e. Wisata Sungai Cibitung yang Indah
Di desa Mukapayung terdapat sungai yang sangat bagus, airnya jernih, batu-batunya unik, dan pemandangannya luar biasa menarik. Namanya sungai Cibitung yang mengalir dari pegunungan gunung Puteri yang menjulang tinggi, sungai ini sangat besar sekali dan lebar kurang lebih sampai 10 meter lebarnya. Arusnya cukup deras, sehingga bagi para pengunjung dituntut untuk berhati-hati ketika turun ke aliran sungai Cibitung tersebut. Namun, tetap mampu menyajikan pemandangan dan sensasi yang indah ketika turun di aliran sungai tersebut, apalagi cocok untuk mencuci muka, dan mandi. Sungai tersebut juga berfungsi sebagai irigasi utama bagi para petani di sawah dan di kebunnya.
f. Wisata Panjat Tebing/Climbing
Bebatuan yang indah dan menjulang tinggi menjadi spot yang tidak boleh dilupakan, batuan-batuan granit yang tersusun rapi nan indah menjadi pemandangan yang tidka bisa dilewatkan, semakin dekat kita melihatnya semakin dekat pula batuan-batuan tersebut sehingga kita bisa melihatnya dengan jelas sekali anugrah Tuhan dalam menciptakan alam semesta ini. Hal ini yang membuat para wisatawan yang mempunyai adrenaline tinggi untuk bisa menaklukan batuan-batuan tinggi menjulang tersebut dengan memanjatnya ataua sering disebut climbing, para penantang adrenaline tersebut sangat tertantang sekali untuk menaklukan bebatuan alami tersebut karena akan mampu mendapatkan pemandangan yang sangat indah sekali, sehingga menjadi suatu kebanggaan para pecinta olahraga ini.
2. Fasilitas Sarana dan Prasarana
Salah satu faktor pendorong pesatnya kehidupan masyarakat yang ada di desa ini adalah sarana dan prasarana yang baik, jalan yang bagus menjadi contohnya, ditambah dengan fasilitas irigasi pertanian yang baik, kantor pemerintahan yang bagus, dan penataan desa yang baik. sarana prasarana ini ditujukkan bagi warga masyarakat desa Mukapayung dalam memajukkan kehidupannya dan memajukkan desa Mukapaung itu sendiri.
3. Letak yang Dekat dengan Pusat Kecamatan Cililin
Satu hal juga yang tidak perlu dilupakan adalah letak secara geografis yang tidak terlalu jauh ke pusat kecamatan Ciilin, jaraknya yang hanya sekitar kurang lebih 5 km dari desa Mukapayung ke kecamatan Cililin menjadi keuntungan bagi masyarakat dalam segala aspek kehidupan. Dalam segi ekonomi, masyarakat lebih mudah untuk menjangkau pasar dan market untuk masyarakat yang lebih luas lagi konteksnya. Jarak ini pun yang banyak mengundang masyarakat kota untuk bermukim di desa ini karena dianggap amsih asri dan jaraknya yang tidak terlalu jauh. Dalam bidang pendidikan, anak-anak dan para remaja juga mudah mengakses pendidikan yang baik di pusat kecamatan, sebut saja SMA Negeri 1 Cililin yang menjadi favorit para siswa untuk menimba ilmu disana karena terkenal dengan kualitasnya yang bagus di lingkup Kabupaten Bandung Barat. Begitupun dalam bidang-bidang lainnya yang snagat terasa sekali keuntungannya.
4. Sumber Daya Alam yang Berlimpah
Terakhir adalah tersedianya sumber daya yang melimpah yang ada di desa ini, sumber daya seperti tanaman alam, pertanian, batu-batuan sebagai bahan bangunan, dan bahkan pertambangan pasir juga tersedia di desa ini, hal tersebut memudahgkan warga dalam memenuhi kebutuhan sehari-harinya. Satu hal yang tidak dilupakan adalah sumber daya pertanian yang mampu memasok kebutuhan makan seluruh warga desa Mukapayung, ditambah dengan hasil palawija yang banyak dan bisa dijual ke pusat kecamatan atau daerah sekitarnya.
5. Merupakan salah satu desa pelestari Kesenian Sunda
Desa Mukapayung juga termasuk desa yang masih menjaga kebudayaan, khususnya kesenian khas Sunda yaitu Pencak Silat, Kecapi, dan Lengser. Hal tersebut patut diacungi jempol karena secara historis dan perkembangan banyak desa yang tidak memelihara kesenian Sunda tersebut.
Hal tersebiut diungkapkan langsung oleh Sekretaris Desa, Bapak Hafidz pada Sabtu (22/04/2017) di Balai Desa. “Kebudayaan khususnya kesenia Sunda masih sangat terjaga dengan baik, mereka masih melestarikannya dan suka mempertontonkannya pada acara-acara besar seperti hajatan dan syukuran tahunan, kemaren saja waktu peresmian kantor desa yang baru kesenian-kesenian itu di pertontonkan pada warga semua, bahkan sampai 2 hari 2 malam waktu itu”, tandasnya. Namun ia menyayangkan, lokasi yang jauh atau tepatnya di daerah perbatasan desa yaitu di dusun Lembang menjadi kendala bagi para wisatawan yang ingin berkunjung kesana, ditambah lagi trek yang sangat curam dan membahayakan.
6. Pengrajin Perlengkapan Polisi terbaik di Cililin dan di Kabupaten Bandung Barat
Siapa sangka bahwa desa Mukapayung terkenal dengan pengrajin perlengkapan polisi terkenal di KBB. Hal itu benar adanya bahwa desa Mupayung sebagai penghasil perlengkapan polisi yang sudah banyak di pasarkan ke pulau ke seluruh Nusantara. Hal itu dikatakan Bapak Hafidz Sekretaris desa dan diu perkuat oleh Bapak jenal sebagai pemilik home industry perlengkapan polisi tersebut pada Sabtu (22/04/2017). “Desa kami ini adalah desa pengrajin perlengkapan polisi di daerah Cililin, dan KBB”. Ujar Pak Hafidz.
Keterangan lainnya juga kami peroleh dari Bapak Jenal sebagai pemiliki home industri konveksi perlengkapan polisi Sinar Mandiri, dia mengatakan bahwa “Konveksi ini berdiri atas inisiatif kakak saya yang kerja di Tanjung Priok, Jakarta. Setelah di bangun dan sempat beberapa kali gagal, akhirnya konveksi ini bisa maju dan Alhamdulillah sudah mencapai pasar nasional, dan di kirim ke berbagai daerah di pulau Jawa”. Tandasnya.

6. Perubahan Sosial Masyarakat Desa Mukapayung
Perubahan sosial masyarakat desa Mukapayung sangat cepat sekali dirasakan, hal tersebut sangat jelas sekali terlihat dari berbagai faktor yang ada, sebut saja dalam faktor ekonomi yang terlihat sudah banyak yang mapan. Selain itu, keterampilan masyarakat pun bervariasi sekali terlihat dari lumayan banyaknya home industri yang ada misalnya home industri pakaian dan alat perlengkapan Polisi/TNI.
Faktor perubahan sosial masyarakat desa tersebut tidak bisa dilepaskan dari dua faktor yaitu internal dan eksternal. Faktor internal terlihat dari semakin banyaknya masyarakat yang mandiri dan kreatif dalam memanfaatkan skil yang ada seperti pembukaan home industri dan pembukaan toko atau grosir dagang, serta fasilitas akses yang sangat baik yang mampu ditempuh dengan akses transportasi roda dua maupun empat. Sebetulnya faktor yang sangat dirasakan oleh masyarakat dalam hal perubahan sosialnya adalah faktor eksternal yaitu dengan banyaknya tempat wisata yang banyak dikunjungi wisatawan yang membawa pengaruh kepada warga pribumi. Wisata kuliner Rumah Makan Ciminyak yang sudah sangat terkenal salah satu contohnya, banyak warga masyarakat yang memutuskan untuk banting stir dari seorang petani menjadi seorang penjual makanan dan hasilnya memuaskan. Selain itu, Wahana Wisata Curugan Gunung Puteri juga menjadi lokasi wisata yang sangat terkenal dan banyak dikunjungi masyarakat baik dari daerah peribumi/ sekitar atau dari luar daerah sekalipun. Masyarakat pun berlomba-lomba memanfaatkan momen tersebut dengan membuka usaha baru, untuk menunjang kebutuhan para wisatawan yang datang. Hal tersebut terlihat dari tidak pernah sepinya dua lokasi wisata tersebut.
Hal tersebut jelas membawa pengaruh yang luar biasa bagi proses perubahan sosial di masyarakat. Masyarakat pun memaklumi perubahan yang terjadi tersebut karena hal tersebut dianggap wajar dan membawa perubahan yang baik. Perubahan yang terjadi membawa perubahan bagi taraf hidup masyarakat, industri pun berkembang dengan baik yang mampu membawa pada kesejahteraan masyarakat. Namun, dorongan akan terjadinya perubahan tersebut juga membawa dampak negatif bagi masyarakat Mukapayung, ini terlihat dari remaja dan para pemuda yang mulai melupakan adat istiadat dan sopan santun yang diwarisi leluhurnya. Dampak lain seperti maraknya kegiatan minum-minuman keras juga banyak terjadi karena akibat adanya kebudayaan yang masuk ke desa tersebut.
Peneliti juga mendapatkan banyak remaja-remaja usia sekolah dan para pemuda yang sedang berkumpul di sekitar pohon-pohon bukit tidak jauh dari wahana Wisata Curugan Gunung Puteri yang sedang bercanda ria dengan membawa perempuan atau teman sebayanya dengan mereka, dugaan peneliti bahwa sering terjadi kemrosotan moral entah itu miras oplosan atau pun perbuatan asusila dengan memanfaatkan lokasi hutan lindung yang tidak terlihat oleh keramaian yang dekat dengan wahana wisata tersebut. Dan setelah peneliti meyakinkan dengan mewawancarai warga sekitar, ternyata dugaan tersebut benar adanya bahwa katanya sering terjadi perbuatan asusila dan pesta miras oplosan di sekitar hutan lindung dekat dengan wahana Wisata Curugan Gunung Puteri tersebut. Lebih lanjut, petugas desa dan para warga sering melakukan razia yang kedapatan sedang melakukan asusila dan miras oplosan di hutan, bahkan banyak pelakunya adalah para pelajar yang masih duduk di bangku sekolah.
Berdasarkan uraian tersebut, dapat ditarik kesimpulan bahwa terjadi perubahan sosial yang sangat besar di Desa Mukapayung ini yang disebabkan oleh faktor internal dan faktor eksternal. Khususnya faktor eksternal yaitu dengan banyaknya wisatawan yang masuk ke Wahana Wisata yang ada dan memberikan pengaruh baik positif maupun negatif. Dampak positifnya adalah memberikan perubahan yang baik dalamm hal ekonomi, banyak masyarakat yang bekerja di bidang pengelolaan wisata dengan memanfaatkan tempat wisata yang ada, banyak pula masyarakat yang membuka home industri yang hasilnya sudah sangat menjanjikan. Namun, dampak negatifnya juga banyak terjadi, terlihat dengan semakin sempitnya area pertanian yang berubah menjadi perumahan penduduk, serta banyaknya kemrosotan moral dalam remaja dan pemuda masyarakat seperti perbuatan asusila dan pesta miras oplosan.
Peneliti juga berargumen bahwa kedepannya desa Mukapayung akan berkembang dengan sangat cepat, dengan mempertimbangkan keadaan-keadaan yang mempengaruhinya. Salah satunya adalah diperkirakan akan dibangun minimarket-minimaket penunjang kebutuhan masyarakat desa dan kebutuhan lainnya.

7. Stratifikasi Sosial Masyarakat Desa Mukapayung
Terjadinya perubahan yang berangsur-angsur sekali lagi berdampak pada terjadinya stratifikasi masyarakat desa Mukapayung. Stratifikasi tersebut terlihat dari mayoritas penduduk yang bermata pencaharian petani dan pedagang serta pemilik home industri. Para petani hanya bisa memproduksi hasil taninya bagi dirinya sendiri saja, kadangkala dijual apabila stok untuk makan sampai panen selanjutnya terpenuhi. Berbeda dengan para pedagang besar dan pemilik home industri yang sudah mampu menjalankan industrialisasi dengan baik, mereka cenderung melimpah dan mempunyai rumah mewah serta mobil pribadi.
Stratifikasi sosial ini sebetulnya adalah adanya perbedaan skil anggota masyarakat, modal skil yang rendah misalnya hanya mampu bertani saja menjadi alasan mereka sulit berkembang. Berbeda dengan para pengusaha yang memiliki multiskil yang mampu mengembangkan usahanya terus menerus ditambah dengan modal yang besar. Selain itu, kualitas lulusan pendidikan yang berbeda juga berdampak pada pekerjaan yang digeluti oleh masyarakat. Para pengusaha-pengusaha dan para pengembang industri umumnya adalah lulusan perguruan tinggi yang ditempuhnya di kota, berbeda dengan para petani yang hanya lulus dari SD atau SMP saja.
Faktor lain semakin terlihatnya stratifikasi adalah bangunan fisik sebagai tempat tinggal, para pengusaha dan pedagang besar biasanya mempunyai rumah di pinggir-pinggir jalan utama desa dengan bangunan permanen yang bagus dan berlantai, berbeda dengan para petani kecil dan burih biasa yang mempunyai rumah sederhana terbuat dari kayu dan bilik yang lokasinya juga berdekatan dengan persawahan dan kebun palawija. Namun, tidak dipungkiri pula bahwa ada konglomerat-konglomerat petani yang mempunyai rumah mewah di pinggir-pinggir sawahnya.
Stratifikasi ini lumrah memang adanya khususnya di daerah-daerah terbuka dalam menerima perubahan yang ada, selalu ada kelas yang di bawah dan kelas yang diatas dalam kehidupan mobilitas masyarakayt yang berkembang tersebut. Memang akan sangat berdampak pada degradasi sosial apabila hal tersebut dibiarkan, masyarakat yang kaya akan semakin kaya dan masyarakat yang miskin akan semakin miskin, hal yang di khawatirkan adalah lahan pertanian yang semakin langka dan penuh dengan permukiman penduduk ataupun pabrik-pabrik industrialisasi. Hal tersebut bisa menghilangkan pekerjaan mayoritas penduduk desa Mukapayung yaitu bertani.


C. PENUTUP
Desa Mukapayung adalah sebuah desa wisata yanga ada di kecamatan Cililin, Kabupaten Bandung Barat. Desa ini merupakan desa yang mempunyai syarat akan sejarah yang sangat dipercaya di masyarakat yang diambil sesuai dengan cerita mitologi di masyarakatnya. Desa ini adalah ahsil pemekaran dari desa Rancapanggung, dan umurnya masih tergolong muda. Namun, dari segi kesejahteraan dan mayoritas penduduk, desa ini sudah sangat berkembang dan mandiri dalam segi ekonomi maupun bidang lainnya.
Wisata menjadi ciri khas dari desa ini, terdapat dua tempat wisata yang sudah banyak di kenal masyarakat luas, yaitu wisata kuliner Rumah makan Ciminyak dan Wahana Wisata Curugan Gunung Puteri. Dua wahana wisata ini sudah banyak dikunjungi oleh warga masyarakat. Selain dua lokasi wisata ini terdapat wisata lain yang menjanjikan dan dijamin keindahannya, diantaranya wisata pegunungan, persawahan, pendakian, sungai, climbing, dan lain sebagainya.
Karakteristik masyarakat desa Mukapayung sendiri umumnya sama dengan desa lainnya yaitu terbuka terhadap berbagai budaya yang baru, meskipun pada awalnya mengalami cultural schock terhadap budaya yang masuk, namun akhirnya masyarakat dapat menyesuaikannya sehingga kehidupan berjalan seperti biasanya. Masyarakat dapat memetik buah hasil dari adanya pembangunan dan destinasi wisata yang ada.
Perubahan sosial masyarakat terjadi pada warga desa Mukapayung, perubahan terjadi secara bertahap dan diiringi dengan ciri-ciri yang baru yang sebelumnya tidak ada, perubahan umumnya menakankan pada berbagai aspek, khususnya ekonomi dan sosial. Masyarakat terlihat aktif dalam berbagai kegiatan ekonomi karena di dorong oleh faktor internal dan faktor eksternal khususnya. Perubahan tersebut alhasil banyak menghasilkan dampak yang positif dan dampak negatif pula bagi masyarakat. Perubahan sosial tersebut menyebabkan adanya stratifikasi sosial dalam masyarakat, mereka yang mempunyai banyak skil keahlian tidak hanya berprofesi sebagai petani saja tetapi berwirausaha, berdagang, dan lain-lain. Stratifikasi ini terlihat dari bukti fisik berupa bangunan rumah dan pekerjaan yang digeluti.

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
PERAN PEMUDA DALAM KOMUNITAS DI MASYARAKAT
(Studi Kasus Serdadu Community Kecamatan Cibiru Kota Bandung)
Diajukan Untuk Memenuhi Ujian Tengah Semester Mata Kuliah Filsafat Sosial
Dosen Pengampu: Nanang Suriyatna, M.Ud.
Disusun Oleh:
Paelani Setia (1168030160)


JURUSAN SOSIOLOGI
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN)
SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG

2017
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Filsafat Sosial Kalau Mau Copas Izin dulu ya sama yang punya!

KATA PENGANTAR

Segala Puji bagi Allah, Tuhan Yang Maha Agung, Shalawat serta Salam tercurah limpah kepada baginda Nabi Besar Muhammad Saw, juga kepada keluarganya, para shahabatnya, pengikut dan orang-orang yang berada di jalannya hingga akhir zaman.
Alhamdulillaah dengan segala syukur saya sebagai penulis dapat menyelesaikan sebuah laporan hasil observasi langsung yang berjudul “Peran Pemuda dalam Komunitas Masyarakat (Studi Kasus Serdadu Community Kecamatan Cibiru Kota bandung)”. Laporan ini adalah hasil dari kesabaran dan perjuangan meskipun saya menyadari masih ada kekurangan di dalamnya.
Kami mengucapkan banyak terima kasih kepada Bapak Nanang Suriyatna, M.Ud., selaku dosen mata kuliah Filsafat Sosial yang telah memberikan tugas Ujian Tengah Semester ini kepada saya dan membantu saya sebagai penulis dalam menyelesaikan laporan ini. Dan tidak lupa kami juga mengucapkan terima kasih pada semua pihak yang telah membantu menyelesaikan laporan ini sehingga bisa tersusun dengan baik.
Tujuan dari pembuatan laporan ini adalah untuk memenuhi salah satu tugas Ujian Tengah Semester, menambah wawasan bagi para pembaca, memberikan gambaran tentang peran pemuda dalam komunitas di masyarakat khususnya masyarakat  melalui penelitian yang dilaksanakan dalam beberapa waktu ke belakang yang disusun secara ringkas dan mudah dipahami. Kemudian, saya berharap para pembaca bisa mengambil pelajaran dan dan menambah khazanah ilmu para pembaca.
Semoga laporan ini bermanfaat dan bisa menjadi bahan evaluasi dan tolak ukur dalam makalah-makalah lainnya di masa yang akan datang. Mohon kritik dan sarannya. Terima kasih.
Penulis,

Paelani Setia

DAFTAR ISI


KATA PENGANTAR i
DAFTAR ISI ii
BAB I
PENDAHULUAN 1
A. Latar Belakang Masalah 1
B. Rumusan Masalah 2
C. Tujuan 2
D. Metode Penelitian 3
BAB II
LANDASAN TEORITIS 4
A. Pengertian Komunitas 4
B. Hubungan Teori-teori Sosial dengan Komunitas Serdadu Community 4
1. Teori Pembangunan Masyarakat (Development Theory of Society) 5
2. Teori Mobilisasi Sumber Daya Manusia (Human Mobilization Resources Theory) 5
3. Teori Kehidupan Individualistis Masyarakat Kota 6
BAB III
PEMBAHASAN 7
A. Profil Komunias Serdadu Community 7
B. Kegiatan Serdadu Community dalam Masyarakat 8
C. Peran Serdadu Community dalam Masyarakat 10
1. Pengaruh dalam Bidang Agama 10
2. Pengaruh dalam Bidang Ekonomi 11
3. Pengaruh dalam Bidang Politik 12
D. Antitesis Teori Kehidupan Individualistis di Daerah Perkotaan dalam Analisis Serdadu Community 12
BAB IV
PENUTUP 16
A. Simpulan 16
B. Saran 16
DAFTAR PUSTAKA 18
LAMPIRAN 19

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Masyarakat adalah suatu kelompok individu yang mempunyai tujuan dan keinginan bersama. Gotong royong dalam masyarakat sangat penting dilakukan karena pada hakikatnya masyarakat membutuhkan bantuan orang lain alias tidak bisa memenuhi kebutuhan hidupnya. Cerminan masyarakat yang berperadaban adalah terlaksananya tujuan bersama dalam masyarakat tersebut, sehingga masalah sosial yang seringkali ada dan memang selalu ada setidaknya aka nada solusinya, sehingga mampu menciptakan kehidupan yang bijaksana dan adil bagi semua unsur masyarakat. Peran kelompok masyarakat akan sangat berpengaruh sekali dalam mewujudkan kehidupan masyarakat yang madani, dengan kelompok masyarakat akan tercipta kehidupan yang saling memenuhi satu sama lain yang beradab dan berperilaku social positive thinking.
Seiring dengan perkembangan zaman, kebebasan dalam berpendapat yang dilindungi oleh Undang-Undang melahirkan berbagai komunitas di masyarakat, perbedaan tujuan dan kegiatan menjadi ciri khas berbagai komunitas yang ada di masyarakat. Sejatinya komunitas berfungsi sebagai penampung kebersamaan dalam wadah satu dengan tujuan yang beragam untuk mencapai tujuan bersama. Komunitas olahraga, musik, bahasa, pecinta alam, dan lingkungan merupakan contoh berbagai komunitas yang ada dan nyata dalam masyarakat. Komunitas akan menghasilkan buah apabila disandarkan pada tujuan umum dan bersama yang bukan hanya sekedar ditekankan pada aspek hobi ataupun kegemaran semata.
Pemuda merupakan aset yang tak ternilai harganya, di dalam pemuda tersimpan kekuatan yang akan merubah Negara dan bangsa suatu saat. Meskipun, tujuan tersebut akan tercapai apabila para pemuda berusaha keras mengubah suatu permasalahan yang ada di dalam lingkungannya. Sebagai suatu generasi bangsa, tentunya harapan Negara dan bangsa ada dalam para pemudanya. Namun faktanya di lapangan, banyak pemuda yang tidak peduli akan kondisi dan situasi yang berkembang di masyarakatnya sendiri, para pemuda seakan-akan apatis terhadap perkembangan yang terjadi dalam lingkungannya. Miris memang, namun begitulah faktanya. Tidak semuanya memang, hanya beberapa saja yang sesuai dengan hal demikian, masih ada beberapa yang masih sangat care dengan lingkungan dan kondisi masyarakatnya.
Peran komunitas pemuda di masyarakat sangat vital sekali, bukan hanya sekedar berkumpul dalam kesamaan dan menyukai suatu hal, tetapi harus menghasilkan sesuatu yang bernilai untuk masyarakat, salah satunya bernilai bagi kehidupan ekonomi, kesejahteraan, dakwah, dan cinta lingkungan. Latar belakang tersebut yang menginspirasi saya untuk melakukan sebuah observasi penelitian hingga melaporkan dalam suatu laporan karya ilmiah yang berjudul Peran Komunitas Pemuda dalam Masyarakat (Studi Kasus Komunitas Serdadu Community, Kecamatan Cibiru, Kota Bandung).

B. Rumusan Masalah
Permasalahan yang urgen akan sangat mendorong seseorang dalam menyelesaikannya dan memperoleh solusi yang terbaik sesuai dengan yang diinginkan. Adapun permasalahan yang saya rumuskan adalah:
1. Bagaimana profil lengkap komunitas Serdadu Community?
2. Bagaiamana pengaruh Komunitas Serdadu Community bagi masyarakat luas?
3. Bagaimana hubungan analisis teori sosial dalam bentuk antithesis studi kasus komunitas Serdadu Community?

C. Tujuan
Terdapat dua tujuan utama dalam melaporkan hasil observasi penelitian ini, yaitu tujuan secara teoritis dan tujuan secara praktis. Tujuan secara teoritis, yaitu mengharapkan bertambahnya wacana baru tentang studi masalah pentingnya peran komunitas dalam suatu masyarakat dan pentingnya kesadaran mencapai suatu tujuan tertentu dalam berbagai kelompok sosial khususnya komunitas.
Adapun tujuan secara praktis diharapkan mampu untuk menambah ilmu pengetahuan mengenai bagaimana komunitas, pengetahuan masyarakat terhadap komunitas, peran komunitas, dan urgensi komunitas dalam kehidupan masyarakat luas.

D. Metode Penelitian
Metode penelitian yang digunakan adalah metode observasi lapangan langsung. Observasi adalah metode pengumpulan data melalui pengamatan langsung atau peninjauan secara cermat dan langsung di lapangan atau lokasi penelitian. Dalam hal ini, peneliti dengan berpedoman kepada desain penelitiannya perlu mengunjungi lokasi penelitian untuk mengamati langsung berbagai hal atau kondisi yang ada di lapangan. Penemuan ilmu pengetahuan selalu dimulai dengan observasi dan kembali kepada observasi untuk membuktikan kebenaran ilmu pengetahuan tersebut.
Dengan observasi kita dapat memperoleh gambaran tentang kehidupan sosial yang sukar untuk diketahui dengan metode lainnya. Observasi dilakukan untuk menjajaki sehingga berfungsi eksploitasi. Dari hasil observasi kita akan memperoleh gambaran yang jelas tentang masalahnya dan mungkin petunjuk-petunjuk tentang cara pemecahannya. Jadi, jelas bahwa tujuan observasi adalah untuk memperoleh berbagai data konkret secara langsung di lapangan atau tempat penelitian.
Wawancara intensif dengan petinggi komunitas menjadi cerminan dan acuan sumber informasi pertama dan sumber utama. Metode ini mempunyai banyak keunggulan karena bisa melihat suatu permasalahan secara langsung dan memperoleh informasi sebanyak-banyaknya dengan akurat dan tepat sesuai proporsional yang dibutuhkan oleh seorang peneliti. Metode ini menjadi pilihan peneliti dalam mendapatkan informasi, meskipun awalnya terkesan confused, namun akhirnya bisa menemukan titik terang dalam proses wawancara lapangan.




BAB II
LANDASAN TEORITIS

A. Pengertian Komunitas
Komunitas adalah sebuah kelompok sosial dari beberapa organisme yang berbagi lingkungan, umumnya memiliki ketertarikan dan habitat yang sama. Dalam komunitas manusia, individu-individu di dalamnya dapat memiliki maksud, kepercayaan, sumber daya, preferensi, kebutuhan, risiko, kegemaran dan sejumlah kondisi lain yang serupa. Komunitas berasal dari bahasa Latin communitas yang berarti "kesamaan", kemudian dapat diturunkan dari communis yang berarti "sama, publik, dibagi oleh semua atau banyak".
Menurut Crow dan Allan, Komunitas dapat terbagi menjadi 3 komponen:
1. Berdasarkan Lokasi atau Tempat
Wilayah atau tempat sebuah komunitas dapat dilihat sebagai tempat di mana sekumpulan orang mempunyai sesuatu yang sama secara geografis. Dan saling mengenal satu sama lain sehingga tercipta interaksi dan memberikan konstribusi bagi lingkungannya.
2. Berdasarkan Minat
Sekelompok orang yang mendirikan suatu komunitas karena mempunyai ketertarikan dan minat yang sama, misalnya agama, pekerjaan, suku, ras, hobi maupun berdasarkan kelainan seksual. Komunitas berdasarkan minat memiliki jumlah terbesar karena melingkupi berbagai aspek, contoh komunitas pecinta animasi dapat berpartisipasi diberbagai kegiatan yang berkaitan dengan animasi, seperti menggambar, mengkoleksi action figure maupun film.
3. Berdasarkan Komuni
Komuni dapat berarti ide dasar yang dapat mendukung komunitas itu sendiri .

B. Hubungan Teori-teori Sosial dengan Komunitas Serdadu Community
1. Teori Pembangunan Masyarakat (Development Theory of Society)
Teori pembangunan masyarakat mencakup tiga pembahasan utama, yakni teori pembangunan masyarakat sebagai proses; teori pembangunan masyarakat sebagai cara (metode); dan teori yang berkaitan dengan peranan program di dalam pembangunan masyarakat. Teori pembangunan masyarakat sebagai proses, berlandaskan pada pendekatan sistem dalam pengelolaan pembangunan. Sistem adalah suatu kesatuan utuh yang terdiri dari berbagai bagian, di mana bagian tersebut saling berinteraksi satu sama lain.
Bagian-bagian yang ada dalam teori pembangunan masyarakat sebagai proses, yakni input (masukan), proses konversi, dan output (luaran). Input yang berasal dari lingkungan (lingkungan fisik dan sosial), selanjutnya dikonversi untuk dijadikan sebagai output proses pembangunan. Ada satu tahap yang sangat penting pula dalam pendekatan ini, yakni proses umpan balik (feed back) dari output menjadi input kembali.
Teori pembangunan masyarakat sebagai metode, yang diuraikan di sini adalah teori tentang partisipasi masyarakat. Teori menghendaki bahwa partisipasi masyarakat dalam pembangunan, tidak hanya bersifat keikutsertaan secara fisik dalam kegiatan pembangunan, tetapi yang lebih penting bagaimana melibatkan masyarakat secara mental yang disertai motivasi dalam program pembangunan. Ini sebabnya dalam kegiatan belajar ini, diutarakan beberapa metode yang terbukti telah efektif dalam memobilisasi peran serta masyarakat dalam berbagai pembangunan masyarakat. Keberadaan suatu program pembangunan masyarakat di suatu komunitas merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari pembangunan nasional secara umum. Pada bagian terakhir kegiatan belajar ini, diuraikan tentang substansi program dan tahap-tahap dalam penyelenggaraan pembangunan masyarakat.
2. Teori Mobilisasi Sumber Daya Manusia (Human Mobilization Resources Theory)
Teori Sumber daya manusia memandang mutu penduduk sebagai kunci pembangunan dan pengembangan masyarakat. Banyak penduduk bukan beban pembangunan bila mutunya tinggi. Pengembangan hakikat manusiawi hendaknya menjadi arah pembangunan. Perbaikan mutu sumber daya manusia akan menumbuhkan inisiatif dan kewirausahaan. Teori sumber daya manusia diklasifikasikan kedalam teori yang menggunakan pendekatan yang fundamental.
3. Teori Kehidupan Individualistis Masyarakat Kota
Ketika berbicara tentang hiruk pikuk hidup di perkotaan, tentunya sangat heterogen sekali, dalam berbagai hal apapun kehidupan di kota selalu beragam karena memang berbagai kebudayaan bercampur dan berbaur menjadi satu, makanya tidak heran apabila di kota kita menjumpai berbagai hal dalam segi kehidupan.
Asumsi pun muncul bahwa kehidupan di kota cenderung tidak memperhatikan perilaku gotong royong atau lebih individualis. Tidak bisa dipungkiri bahwa faktanya memang demikian, di kota banyak sekali dijumpai masyarakat yang individualis dan hanya berfokus pada kehidupannya serta cenderung apatis dan tidak mau tahu bagaimana suasana kehidupan di lingkungannya.
Perbandingan kehidupan di desa dan di kota adalah ketika seseorang melakukan suatu tindakan kejahatan di desa maka seluruh warga desa akan mengetahuinya, berbeda dengan kehidupan di kota, bahkan yang lebih parah adalah tetangga meninggal pun tidak tahu. Ironis memang, namun begitulah faktanya di lapangan.
Hal tersebut diperparah dengan kemudahan dan kecanggihan teknologi informasi komunikasi yang memungkinkan komunikasi bisa dilakukan kapanpun, hal tersebut jelas menimbulkan sentimen bahwa berkomunikasi tetangga pun bisa dilaukan dengan smartphone. Hal tersebut tentunya menjadi fenomena yang biasa dalam masyarakat kota, karena kembali lagi kepada masyarakat yang heterogen dan multikultural.


BAB III
PEMBAHASAN

A. Profil Komunias Serdadu Community
Seperti yang diungkapkan oleh ketua Komunitas Serdadu Darmawan al-Hayah pada (6/4/2017) dalam wawancara ekslusif. Serdadu Community atau Komunitas Serdadu adalah suatu komunitas pemuda Muslim yang ada di Kecamatan Cibiru, Kota Bandung. Komunitas ini terbentuk pada 15 April 2014 dengan penggagasnya adalah Darmawan al-Hayah, Ferli S. Irawan, Muhammad Yosep Sehabuddin, Fikri Aziz, Reza Ferdiansyah, dan Bobby Rizky Hakiki. Sesuai dengan term namanya Serdadu, komunitas ini berisikan para pemuda yang dianalogikan sebagai tentara perang atau prajurit perang, maksudnya adalah para pemuda yang siap bertarung melawan buruknya pergaulan, kekerasan, kesenjangan, kemrosotan moral, dan masalah sosial lainnya serta prajurit yang peduli dengan masyarakat dan lingkungannya. Komunitas ini mempunyai kesekretariatan di Komplek PO Budiman, Bunderan Cibiru, Jl. A.H. Nasution No. 106, Kp. Lio Selatan, Cibiru—Bandung Timur.
Lebih lanjut Komunitas Serdadu mempunyai visi dan misi yang pada umumnya sebagai wadah bagi perubahan masyarakat dari segi pollitik, sosial, dan ekonomi. Lebih lanjut berikut diantaranya visi dan misi Serdadu Community:
Visi:
Menjadikan Serdadu Community sebagai wadah bagi terbentuknya masyarakat, khususnya pemuda Muslim yang mengamalkan ajaran Islam, menjunjung ukhuwah, berakhlakul karimah, yang berwawasan masa depan.
Misi:
1. Melaksanakan pemberdayaan pemuda dan remaja muslim;
2. Melaksanakan kegiatan ekonomi yang mandiri dengan konsep bisnis bertahap.
3. Melaksanakan daurah Islamiyyah setiap minggu.
4. Melaksanakan tadzabur alam atau touring setiap bulan secara berkala.
5. Mendirikan Rubin (rumah binaan) sebagai konsep eksistensi pemuda idaman.
6. Menggerakan sedekah dan infak satu hari (One Day One Cebu).
7. Mengguar kondisi terkini di lingkungan sekitar dan lingkungan luasnya.
8. Melaksanakan bantuan korban bencana bagi yang mendapatkan musibah bencana alam
9. Menggerakkan dakwah dengan media sosial yang lebih menarik dan efisien.
Dengan konsep visi dan misi demikian rasanya komunitas ini terbilang sangat langka di lingkungan sekitar. Komunitas yang bukan hanya bersama, berbaur dalam satu kesukaan atau hobi semata, namun komunits ini mempunyai tujuan yang acuntable dan berwawasan jangka panjang.
Konsep tersebut didukung dengan mobiltias sumber daya manusia dan materi yang baik, selain di dukung oleh tokoh masyarakat, komunitas ini juga sering di danai oleh pengusaha sukses dan banyak memberikan bantuin materi kepada komunitas ini. Salah satunya adalah penulis terkenal yang menulis buku Jago Jualan yaitu Dewa Eka Prayoga yang selalu membantu perkembangan komunitas ini. Selain itu, terdapat tokoh masyarakat yang juga sering ikut andil dalam komunitas ini diantaranya ada dosen Pendidikan Kimia, Fakultas Tarbiyah, UIN Sunan Gunung Djati Bandung Ferli S. Irawan, M.Si., pimpinan yayasan Home Schooling Sukup, Ujungberung Bapak Dr. H. Iwan Budiawan, M.Si, Ketua DKM masjid Ar-Rahmat Bunderan Cibiru H. Nanang Sujono, S.Pd., dan tokoh-tokoh lainnya.
Jumlah anggota beserta pengurus Serdadu Community mencapai kurang lebih 115 orang baik laki-laki maupun perempuan. Kebanyakan anggotanya adalah para mahasiswa dan mahasiswi di UIN Sunan Gunung Djati Bandung, sementara untuk pengurusnya ada yang masih aktif kuliah ada pula yang sudah bekerja, lulus, atau bahkan berkeluarga. Anggota Serdadu Community sendiri lebih mengenal bahwasannya konsep komunitas ini adalah konsep dakwah dan menyiarkan kebenaran demi tercapainya kehidupan yang harmonis yang berlandaskan agama sebagai dasarnya.

B. Kegiatan Serdadu Community dalam Masyarakat
Peran serta suatu komunitas sangat terasa penting sekali bagi masyarakat yang notbeninya lahir dan berkembang di masyarakat. Ibarat kacang yang tidak lupa pada kulitnya, begitupun harapan masyarakat luas terhadapa suatu komunitas yang dijadikan cerminan mereka agar segala aktivitas dapat bernilai dan produktif.
Begitupun dengan Komunitas Serdadu yang mengusung konsep tercapainya tujuan kehidupan yang baik dan dimiliki oleh semua masyarakat. Makanya, tidak salah kalau kegiatan yang diusung oleh Serdadu Commmunity berbaur sebagai salah satu institusi sosial, namun pihak Serdadu sendiri tidak mau apabila dikatakan sebagai institusi sosial karena cakupannya hanya daerah Cibiru saja dan dalam hal pengembangannnya juga mencakup berbagai hal. Berikut akan diulas dua kegiatan yang sering di laksanakan oleh Serdadau Community:
1. Mata Muda
Mata muda merupakan singkatan dari “Masa Ta’aruf Aktivis Muda”. Kegiatan ini bertujuan untuk memperoleh bibit-bibit muda penerus perubahan masyarakat. Kegiatan ini dilaksanakan kurang lebih 4-5 bulan sekali, hasil dari kegiatan ini adalah memperkuat barisan komunitas khususnya dan masyarakat luas pada umumnya, selain memperkenalkan komunitas, juga dilaksanakan pemberdayaan para muda-mudi yang bermental krits menjadi seseorang yang peka terhadap kondisi masyarakat.
2. Kegiatan Rutin Mingguan
Kegiatan mingguan komunitas ini selalu di isi dengan berbagai hal yang sangat bermanfaat, seperti kajian politik KAPOLRI (Kajian Politik Rutin Mingguan), halqah umum, diskusi, sosialisasi bahaya obat-obatan terlarang, kunjungan ke anak-anak jalanan/pengamen jalanan, kunjungan ke masjid jami, ngeliwet bersama, sampai belajar bahasa Inggris atau Arab. Kegiatan ini sangat bermanfaat sekali khususnya buat seluruh anggota komunitas umumnya untuk masyarakat luas.
Komunitas ini juga berkecimpung dalam dunia bisnis dan kewirausahaan. Bisnis yang mereka terapkan adalah bisnis baju, ayam potong, nasi goreng, buku, dan jajanan ringan. Bisnis dilaksakan secara bertahap oleh seluruh anggota demi mewujudkan kehidupan pemuda yang mandiri dalam bidang ekonomi. Bahkan, ada pula bisnis yang dilakukan oleh anggota dan mampu menghidupi kehidupan rumah tangganya.

C. Peran Serdadu Community dalam Masyarakat
1. Pengaruh dalam Bidang Agama
Suatu kelompok masyarakat akan sangat terasa sekali pengaruhnya apabila kegiatan dan aktivitas yang dikerjakan menuahkan sesuatu yang positif. Masyarakat yang sudah mampu menjaga keseimbangan antara kewajiban dan haknya akan selalu bertanggung jawab terhadap kewajibannya sebagai anggota masyarakat. Agama menjadi sesuatu yang penting dalam terwujudnya suatu keharmonisan sosial. Dengan agama, manusia akan mampu mengaplikasikan teori kepercayaannya terhadap perbuatan yang positif dan bernilai, agama mengajarkan akan pentingnya kehidupan setelah manusia meninggal.   Agama akan mengayomi kehidupan suatu masyarakat termasuk di dalamnya komunitas sebagai anggota dari suatu masyarakat.
Serdadu Community berangkat dari agama sebagai titik tolak dasar dalam mewarnai masyarakat, konsep besarnya pun terpampang jelas bahwa tujuan utamanya adalah berdakwah di jalan Allah Swt. Kegiatan-kegiatan seperti daurah Islamiyah, halqah bersama, diskusi, dan lain sebagainya menjadi bukti bahwa agama menjadi unsur terpenting dalam suatu perubahan masyarakat.
Dampaknya sangat dirasakan sekali oleh seluruh masyarakat, bahwa kewajiban akan sadaqah, infak, menuntut ilmu, beribadah menjadi suatu yang harus dilaksanakan yang bukan hanya sebagai agenda ritual saja. Para pemuda pun menjadi antusias sekali dengan adanya sosialisasi bahayanya berpacaran, pergaulan bebas dan lain sebagainya. Sehingga akhirnya adalah diperoleh pemuda-pemuda yang hijrah dari belenggu kegelapan menjadi pemuda yang dihargai dan dihormati di masyarakat.
Dengan adanya Serdadu Community masyarakat juga merasakan adanya pemberdayaan akan pentingnya dakwah sehingga kewajiban dakwah akan dilaksanakan oleh semua elemen masyarakat yang terlibat, Serdadu Community juga menginspirasi akan pentingnya bertafakur atau bertadzabur terhadap alam semesta sebagai ciptaan Allah Swt. Yang Maha Besar dan Maha Agung, sehingga masyarakat pada umumnya semakin sadar di hadapan Tuhan-Nya bahwa ia hanya sebercik pasir kecil yang mempunyai akal dan skillnya masing-masing.
2. Pengaruh dalam Bidang Ekonomi
Ekonomi menjadi sesuatu yang tidak dapat dipisahkan dari manusia, setiap hari manusia memenuhi kebutuhan hidupnya, makan, minum, belanja, dan kebutuhan lainnya yang harus terpenuhi menjadi identitas dalam kehidupan ekonomi. Ekonomi menyebabkan eksistensi manusia akan hidupnya sendiri terus diperjuangkan, tidak hanya itu konsep ekonomi yang luas jauh daripada itu, dimana terjadinya inflasi, hutang piutang, pasar saham, dan lain-lain.
Konsep pentingnya belajar hidup mandiri menjadi konsep besar pula dalam komunitas ini, Serdadu Community mengajarkan pentingnya usaha dan kerja keras dalam proses pemenuhan kebutuhan hidup manusia. Seperti halnya bisnis kesil yang bertahap pada bisnis baju, bisnis ini sekarang sudah laku di pasaran meski awalnya hanya dikembangkan melalui media sosial facebook saja. Bisnis ini mampu memenuhi kebutuhan anggota dalam kesehariannya.
Pengaruh yang luas bagi masyarakat adalah terbukanya usaha-usaha baru yang bagus untuk dikembangkan bersama dan menjadi sumber penghasilan utama suatu masyarakat. Dengan adanya latihan kewirausahaan pada masyarakat luas secara bertahap menjadikan masyarakat punya harapan baru dalam pemenuhan ekonomi sehari-harinya.
Infak yang dilaksanakan sehari-hari yaitu One Day One Cebu juga sangat bermanfaat sekali, hasilnya biasanya disumbangkan kepada anak-anak yatim dan anak-anak terlantar untuk memberikan mereka usaha modal untuk bisa membuka lading usaha baru seperti usaha jajanan asongan di lampu merah jalan, dan usaha lainnya. Selain sebagai penyedia bantuan modal, komunitas ini juga menyediakan berbagai bantuan moril berupa pemberdayaan kesiapan menghadapi peluang ekonomi dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari.
3. Pengaruh dalam Bidang Politik
Politik termasuk unsur yang sangat sentral pula bagi masyarakat, meskipun banyak diantanya yang kesdaran poltiknya masuh sangat rendah sekali. Banyak kalangan masyarakat yang menganggap bahwa poltik itu adalah sesuatu yang kotor dan hanya dilakukan oleh orang yang punya uang saja, namun sebenarnya poltik bukanlah hal demikian, politik adalah strategi manusia dalam menjalankan kehidupannya sehari-hari.
Serdadu Community rutin melaksanakan kegiatan pemahaman pentingnya poltik dalam kehidupan bermasyarakat. Kegiatannya bernama KAPOLRI (Kajian Politik Rutin Mingguan), kegiatan ini ditujukan kepada para pemuda dan masyarakat pada umumnya, kegiatan ini berlandaskan agama sebagai pondasi dasar sehingga tetap kondusif dan tidak ada unsur apapun.
Jelaslah bahwa kegiatan ini sangat bermanfaat sekali untuk masyarakat, selain menambah wawasan dan pencerahan dalam dunia perpolitikan juga mampu meningkatkan kesadaran akan pentingnya politik, masyarakat yang awalnya menganggap bahwa politik itu sangat kejam, seakan tersadar bahwa poltik itu dimulai dari hal-hal kecil dan bermanfaat, dan tahu bahwa urusan politik bukan hanya urusan Negara atau pemerintahan tapi lebih kecil dari pada itu. Dampak lain, semangat kebersamaan dan gotong royong pun semakin bertambah dan mengerucut menjadi kesadaran baru dalam masyarakat.

D. Antitesis Teori Kehidupan Individualistis di Daerah Perkotaan dalam Analisis Serdadu Community
Seradadu Community sudah berkecimpung dalam dunia masyarakat sudah beberapa tahun lamanya, meskipun belum begitu lama tetapi sudah mempunyai banyak sekali pengalaman baik dan buruknya kondisi masyarakat. Mereka bukan hanya sebuah komunitas yang hanya bersatu dalam persamaan tetapi lebih dari pada itu mereka mempunyai harapan yang sangat rasional yaitu mewujudkan kehidupan yang lebih baik dalam berbagai tantangan dan godaan. Pemuda sekarang umumnya langka sekali banyak yang peduli terhadap lingkungannya, mereka hanya berjuang memperjuangkan kehidupannya tanpa peduli dengan situasi dan kondisi lingkungan sekitarnya, hal tersebut sangat prihatin sekali karena pemuda adalah generasi penerus harapan yang menyimpan kekuatan dan cita-cita yang besar.
Salah satu analisis komunitas ini adalah gaya hidup masyarakat perkotaan yang cenderung apatis dan tidak mau tahu terhadap kondisi lingkungannya. Kehidupan tersebut akhirnya mengerucut kepada suatu perilaku yang membudaya di perkotaan yaitu individualis, bahkan perilaku tersebut sudah menjadi ideology kaum urban yang meyakininya yaitu individualisme. Individualis adalah suatu sikap yang tidak memikirkan orang lain alias hanya memikirkan dirinya sendiri. Kehidupan ini sangat ironis memang karena pada dasranya manusia itu hidup saling membutuhkan satu sama lain atau tidak bisa hidup sendiri.
Inilah yang akan diulas bagaimana kritik terhadap adanya ideologi individualism pada masyarakat perkotaan yang sudah banyak diperkenalkan oleh para tokoh-tokoh saintis ketika mulai banyak ilmu itu resmi menjadi bagian dari ilmu pengetahuan yang baru.
Seperti yang diungkap di awal tadi bahwasannya individualis itu identik pada masyarakat kota, mungkin banyak yang sepakat bahwa hal tersebut benar adanya, namun faktanya dilapangan tidak seperti demikian. Inilah yang kemudian dinamakan antithesis dari suatu teori yang baru yaitu kritik atau bahkan bantahan bahwa tidak selamanya teori tersebut berlaku.
Individualisme adalah merupakan satu paham yang menerangkan bahwa seseorang yang mementingkan haknya pribadi tanpa memperhatikan orang lain. Individualisme ini juga menjelaskan bagaimana seseorang hidup tanpa adanya sosialisasi dengan orang lain.
Ideologi individualism ini muncul di tengah-tengah peradaban reformasi  barat, kurang lebih pada abad 17 dan 18. Teori ini muncul sebagai anti klimaks dari penguasa monarki absolute. Mereka gandrung manyuarakan Liberte, Egalite, dan Fraternite. Mereka juga mengembangkan pemikiran-pemikiran rasionalisme dan humanisme sebagai buah dari revolusi Prancis dan revolusi industri.
Tokoh pemikir ideologi ini adalah Marthin Luther, ia adalah seorang komunis dari Jerman, kemudian diteruskan oleh pemikir selanjutnya sebelum dan setelah terjadinya Revolusi Perancis di Eropa yaitu, Jhon Locke, Vottaire,  Montesquieu, J.J Russeau, dan Immanuel Kant.
Sejatinya pencetus teori ini adalah mereka yang merasakana ketidakadilan ketika peristiwa besar di Eropa saat itu, namun paham ini berkembang dan menjadi kebiasaan masyarakat saat ini khususnya di masyarakat perkotaan. Namun pertanyaan besar pun menghinggapi, betulkah paham ini berlaku di masyarakat secara umum? Ketika ditelisik lebih dalam jawabanpun mulai hinggap bahwa ternyata teori ini tidak utuh semuanya ada dalam masyarakat. Berikut karakteristik kritik teori individualism di masyarakat perkotaan:
1. Permukiman yang padat di perkotaan menyebabkan sempitnya jarak antara perumahan masyarakat satu dengan yang lainnya, hal tersebut menyebabkan posisi keluarga sangat berdekatan. Dampaknya, warga semakin sering berinteraksi karena harus terus bertatap muka setiap hari, kebutuhan dan pemenuhan barang dan jasa semakin cepat mobilisasinya karena posisi warga yang sangat berdekatan tersebut.
2. Kebutuhan sehari-hari yang tidak bisa dipenuhi oleh sendiri. Inilah yang menjadi kontroversi, sejatinya manusia adalah makhluk sosial yang salaing membutuhkaan, ketika manusia membutuhkan bahan makanan, pakaian, ataupun kebutuhan lainnya tidak bisa sepenuhnya dipenuhi oleh dirinya sendiri, otomatis manusia akan membutuhkan orang lain sebagai syarat untuk bisa memenuhi kebutuhan sehari-harinya. Dan jelas terlihat ketika pusat perbelanjaan, restoran, pusat hiburan dan lainnya penuh diisi oleh masyarakat yang saling berinteraksi dan memenuhi kebutuhan materinya. Begitupun dengan interaksi yang dilakukan masyarakat kota sehari-hari yang tidak dipisahkan dari kehidupannya.
3. Kebanyakan masyarakat perkotaan yang memiliki sikap individualitas adalah golongan atas, karena alasan yang logis yaitu kesibukan mereka dalam menjalani hari-harinya. Tentunya bertolak belakang dengan masyarakat kelas menengah dan bawah yang lebih banyak interaksinya dengan yang lainnya. Faktor pekerjaan juga sangat berpengaruh terhadap mobilisasi masyarakat perkotaan fakta di lapangan membuktikan bahwa kaum perempuan lebih banyak berada di rumahnya daripada laki-laki, jadi interaksi yang dilakukan pun bertambah banyak, misalnya kaum ibu-ibu yang duduk negong dan menggosipkan sesuatu sesuai berita actual yang dipantenginya.
Berdasarkan alasan tersebut dapat dikatakan bahwa sebenarnya konteks individualistis tidak sesuai dengan fakta di awal. Bukti dan fakta-fakta baru membuktikan ternyata masih ada kejanggalan dalam teori individualistis yang sudah diungkapkan dalam literartur pengetahuan murni, masih banyak aspek yang harus diteliti lebih dalam lagi dalam menentukan perilaku individualistis masyarakat perkotaan. Ibaratnya sakit flu yang penyebabnya adalah melalui suhu dingin atau suhu badan yang sangat dingin, ternyata pandangan tersebut tidak benar bahwasannya flu disebabkan oleh virus secara murni. Begitupun teori individualistis yang selama ini di elu-elukan ternyata masih ada aspek yang tidak diketahui dan bisa menimbulkan paradigm baru dalam menelaahnya.
Berkaitan dengan Serdadu Community, jelas bahwasannya komunitas ini bergelut dengan dunia masyarakat secara langsung, makanya jelas memahami sekali apa yang terjadi di masyarakat karena kecimpung dalam dunia masyarakat sudah cukup dalam. Kegiatan seperti pemberdayaan, penyuluhan bisnis, kajian agama, ekonomi, dan politik membuktikan bahwasannya masyarakat tidak sama sekali individualistis meski mereka heterogen dan majemuk. Meskipun ada beberapa masyarakat yang menolak, namun masih dalam konteks positif dengan alasan yang logis dan jelas.






BAB IV
PENUTUP
A. Simpulan
Serdadu Community atau Komunitas Serdadu adalah suatu komunitas pemuda Muslim yang ada di Kecamatan Cibiru, Kota Bandung. Sesuai dengan term namanya Serdadu, komunitas ini berisikan para pemuda yang dianalogikan sebagai tentara perang atau prajurit perang, maksudnya adalah para pemuda yang siap bertarung melawan buruknya pergaulan, kekerasan, kesenjangan, kemrosotan moral, dan masalah sosial lainnya serta prajurit yang peduli dengan masyarakat dan lingkungannya.
Peran komunitas sangat penting sekali di masyarakat, komunitas merupakan bagian dari masyarakat yang dimana terlahir dan di dukung oleh masyarakat. Pada dasarnya komunitas mengabdikan diri kepada masyarakat dengan tujuan yang lebih baik lagi. Komunitas Serdadu (Serdadu Community) menghasilkan masyarakat yang patuh terhadap agama, sadar akan politik, saling tolong menolong, toleransi, dan menghasilkan materi berupa ekonomi yang baik dan menunjang kehidupan.
Teori individualistis merupakan teori yang digugat oleh Serdadu Community tanpa mengesampingkan teori pendukung lainnya, teori ini dirasa tidak sesuai dengan fakta dan kenyaataan yang ada dalam masyarakat, dengan alasan bahwa tidak selamanya masyarakat dengan kultur yang berbeda-beda semuanya bersikap individualistis, tentulah ada yang tidak demikian meskipun sudah hidup di kota besar dengan tingkat penduduk yang tinggi. Teori ini di kritik dengan berbagai alasan yang logis dan berdasarkan fakta di lapangan yaitu dengan membandingkan unsur pembanding dan fakta tentang masyarakat kota itu sendiri.
B. Saran 
Berbagai kebijakan yang masih simpang siur menyebabkan suatu kebingunan dalam masyarakat, tidak heran apabila banyak masyarakat yang tidak percaya akan pemerintahan yang bercokol, salah satunya pemuda. Banyak pemuda sangat ironis sekali dengan kebiasaan buruknya yang tidak memperdulikan keadaan lingkungan masyarakatnya. Tentunya sebagai penerus tonggak kepemimpinan dan penerus bangsa pemuda dituntut untuk mampu merubah realitas yang ada demi tercapainya kehidupan yang harmonis dan tenteram. Perlu adanya kesadaran yang mendalam dari para pengampu kepentingan di negeri ini agar mampu melihat jelas fakta dan realita sebenarnya yang terjadi di masyarakat. Paham-paham yang menjalar dan berkembang di negeri ini sudah sangat banyak sekali sehingga menggoyakkan hati masyarakat Negara ini, tentunya kesadaran akan hak dan kewajiban snagat diperlukan agar tidak terjadi sesuatu yang merugikan dalam kehidupan bermasyarakat ini.



















DAFTAR PUSTAKA

Lawick, Hendick Fridech, 1992. Individualism at the Nations Grew, USA: Treshold University of Broklyn.
Rahmana, Naufal, 2012. Komunitas berjiwa Sosial, Bandung: Media Utama Press.
Setiawan, Imam A. 2015. Agama dalam Masyarakat, Bandung: Pustaka Setia.
Sochan, Fredich Immer, 1997. The Community of Civil Society (Communities Brand of Social Controling Associate Good Imagination), New York: MSAA.
Waseso, Budi, 2012. Metode penelitian Sosial, Jakarta: Pustaka Pelajar.
Wenger, 2002. Community in the Life, New Orland, California: Oxplodefs.
Ulhas, Imral Amiru, 2010. Melakukan Penelitian Sosial, Yogyakarta: Indah Kencana Press,















LAMPIRAN

 
 

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Locus dan Focus Ilmu Administrasi
1. Lokus
Lokus adalah tempat yang menggambarkan di mana ilmu tersebut berada. Dalam hal ini lokus dari ilmu administrasi publik adalah: Kepentingan publik (public interest) dan urusan publik (public affair).
2. Fokus
Fokus adalah apa yang menjadi pembahasan penting dalam memepelajari ilmu administrasi publik. Yang menjadi fokus dari ilmu administrasi publik adalah teori organisasi dan ilmu manajemen.
KEY WORDS
Locus: Kepentingan Publik dan Urusan Publik.
Fokus: Teori Organisasi dan Ilmu Manajemen

KEBIJAKAN PUBLIK
Dengan adanya pergeseran makna ‟publik‟ sebagaimana dijelaskan di atas, maka ilmu administrasi publik telah menemukan lokusnya secara lebih jelas. Intinya, semua aktivitas yang terjadi pada birokrasi pemerintah dan organisasi-organisasi non-pemerintah yang menjalankan fungsi pemerintah menjadi bidang perhatian ilmuwan administrasi publik. Apabila lokus ilmu administrasi publik menjadi semakin jelas, pertanyaan berikutnya adalah apa yang seharusnya menjadi fokus perhatian ilmuwan administrasi publik. Kegelisahan tersebut kemudian dijawab dengan munculnya studi kebijakan publik sebagai pokok perhatian ilmuwan administrasi publik. Hal ini merupakan implikasi yang sangat logis karena kebijakan publik merupakan output utama dari pemerintah (Dwiyanto, 2007). Bagi pemerintah, kebijakan merupakan instrumen pokok yang dapat dipakai untuk mempengaruhi perilaku masyarakat dalam upaya memecahkan berbagai persoalan publik (public affairs). Upaya tersebut dapat dilakukan dengan menggunakan kebijakan domestik yang bersifat: distributive policy, protective regulatory policy, competitive regulatory policy, dan redistributive policy (Ripley, 1985: 60).

Dwiyanto (2007) dengan mengutip pendapat Denhardt mengatakan bahwa tingginya minat ilmuwan administrasi publik untuk memusatkan perhatian pada studi kebijakan semakin meningkatkan keyakinan bahwa para administrator memiliki intensitas yang tinggi dalam proses perumusan kebijakan publik. Hal ini juga semakin menguatkan argumen bahwa ilmu administrasi publik memang tidak dapat dipisahkan dari induknya Ilmu Politik, sebab proses perumusan kebijakan itu sendiri tidak hanya dilakukan melalui tahapan yang bersifat teknokratis akan tetapi juga melampaui tahapan yang bersifat politis. Tahapan teknokratis dalam proses perumusan kebijakan memiliki posisi sentral. Sebab, pada tahapan ini berbagai solusi cerdas sebagai upaya memecahkan persoalan masyarakat digodok agar dapat dirumuskan serangkaian alternatif kebijakan yang dapat dipilih oleh para policy maker melalui proses politik. Pentingnya proses teknokratis dalam pembuatan kebijakan semakin membuat analisis kebijakan publik menjadi keahlian yang sangat vital yang dibutuhkan oleh para praktisi administrasi publik.

Berbagai tokoh seperti William N. Dunn (1981), Carl Patton dan David Sawicki (1983), Arnold J. Meltsner (1986), dan lain-lain telah menghasilkan berbagai buku penting sebagai acuan para ilmuwan dan praktisi administrasi publik dalam melakukan kegiatan analisis kebijakan publik. Selain itu, kenyataan bahwa kebijakan yang telah dirumuskan tidak selalu menjamin implementasinya akan berjalan mulus juga memicu munculnya studi implementasi kebijakan publik di dalam ilmu administrasi publik. Para ilmuwan seperti Jeffrey Pressman dan Aaron Wildavsky (1984), Merilee Grindle (1980), Malcolm Goggin et.al (1990) merupakan sebagian ilmuwan yang menjadi pelopor pengembangan studi implementasi dalam disiplin Ilmu Administrasi Publik.

MANAJEMEN PUBLIK
Dengan adanya perkembangan terakhir tersebut menjadikan Ilmu Administrasi Publik memiliki lokus dan fokus yang lebih jelas. Lokus studi ini adalah organisasi publik, sementara fokus perhatiannya adalah persoalan publik (public affairs) dan bagaimana persoalan tersebut dipecahkan dengan instrumen kebijakan publik. Akan tetapi seiring berjalannya waktu, kegelisahan ilmuwan administrasi publik tidak hanya berhenti sampai di sini. Buku Owen E. Hughes (1998) yang berjudul Public Management and Administration merupakan pemikiran yang memicu perlunya perubahan dalam mendefinisikan Ilmu Administrasi Publik.

Jika di masa-masa sebelumnya yang dipersoalkan adalah makna public pada public administration yang kemudian bergeser dari administrasi negara menjadi administrasi publik, Hughes memulai diskusi dengan menganjurkan untuk menggunakan istilah manajemen publik daripada administrasi publik. Pemikiran Hughes tersebut memang tidak dapat dipisahkan dari perkembangan paradigma Ilmu Administrasi Publik yang terjadi pada era 1990an yang mencoba memperbarui mekanisme pengelolaan birokrasi publik yang dikenal sangat hirarkis, lamban, dan tidak efisien dengan mengadopsi prinsip-prinsip yang diterapkan pada manajemen bisnis. Keluhan tentang tidak relevannya prinsip-prinsip birokrasi Weberian sudah sering disampaikan.

Apa yang disampaikan oleh Al Gore sebagaimana dikutip oleh Hughes (1998: 3) tentang buruknya sistem birokrasi yang bekerja atas dasar prinsip Old Public Administration barangkali mewakili pemimpin negara yang lain:

[…] in today‘s world of rapid change, lightning-quick information technologies, tough global competition, and demanding customers, large, top-down bureaucracies –public or private—don‘t work very well.
Merespon persoalan tersebut, beberapa pemikir kemudian mengajukan gagasan mereka, seperti: managerialism (Pollit, 1993), new public management (Hood, 1991), market-based public administration (Lan, Zhioying & Rosenbloom, 1992), dan post-bureaucratic paradigm (Barzelay, 1992). Namun yang paling fenomenal tentu saja pemikiran Osborne dan Gaebler (1992) tentang entrepreneurial government yang ditulis dalam buku mereka yang menjadi best seller, yaitu Reinventing Government. Gagasan mereka kemudian diadopsi secara luas di berbagai negara setelah pemerintahan Clinton-Gore di Amerika Serikat mengadopsinya secara sukses. Selain di Amerika, gagasan untuk mengembangkan paradigma public managerialism dalam disiplin Ilmu Administrasi Publik juga terjadi di Eropa, terutama di Inggris ketika tekanan terhadap keterbatasan anggaran bagi penyediaan layanan publik telah memaksa pemerintahan Margaret Thacher untuk menerapkan berbagai upaya guna lebih mengefisienkan pelayanan publik di Inggris. Rhodes (1991) menyerukan perlunya diterapkan semboyan “3Es” atau economy, efficiency dan effectiveness agar pelayanan publik di Inggris menjadi lebih efisien.

Berbagai realitas sebagaimana digambarkan di atas membawa pada suatu cakrawala baru di antara para ilmuwan administrasi negara untuk sampai pada suatu kesimpulan bahwa administrasi publik yang berkonotasi sempit perlu diubah menjadi manajemen publik yang lebih memiliki jangkauan yang lebih luas sebagaimana dikatakan oleh Hughes (1998: 4): It is argued here that administration is a narrower and more limited function than management […]. Dalam argumentasinya lebih lanjut, Hughes mengatakan bahwa menurut definisi kamus, kata "manajemen‟ memiliki makna yang lebih luas dibandingkan "administrasi‟. Dari berbagai definisi kamus yang ada (Oxford English Dictionary, Webster Dictionary dan Latin Dictionary) dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa administrasi lebih dimaknai sebagai proses dan prosedur yang harus dipatuhi oleh seorang administrator dalam menjalankan tugasnya untuk memberikan pelayanan publik. Sedangkan manajemen memiliki arti lebih luas, yaitu tidak hanya sekadar mengikuti prosedur, melainkan berkaitan juga dengan: pencapaian target dan tanggung jawab bagi manajer untuk mencapai target-target yang telah ditetapkan.

Selain alasan tersebut, Hughes (1998: 6) juga menyebut semakin meluasnya penggunaan istilah "manajemen‟ dan "manajer‟ di sektor publik. Sementara di sisi yang lain, penggunaan istilah ‟administrasi‟ justru mengalami penurunan. Di Indonesia sendiri, sejak pemerintahan Kolonial Belanda berakhir, penggunaan istilah ‟administrasi‟ di dalam birokrasi pemerintah semakin jarang digunakan. Kalaupun digunakan, istilah ‟administrasi‟ telah mengalami kemerosotan makna sebagai konsep untuk menggambarkan pekerjaan ketik-mengetik atau sesuatu yang berkaitan dengan pemenuhan prosedur surat-menyurat (cf. Utomo, 2007: 131). Apa yang terjadi tersebut menunjukkan bahwa istilah ‟manajemen‟ memiliki makna lebih superior dibandingkan istilah "administrasi‟. Oleh karena itu Hughes (1998: 6) kemudian mengatakan bahwa:

As part of the general process public administration‘ has clearly lost favor as a description of the work carried out; the term manager‘ is more common, where once administrators‘ was used.
Dukungan terhadap pendapat Hughes juga diberikan oleh Pollitt (1993: vii) yang menyebutkan: formerly they were called administrators‘, principal officers‘, finance officers‘ atau assistant directors‘. Now, they are managers‘. Tentu saja, pentingnya perubahan dari administrasi menjadi manajemen bukan hanya sekadar sebuah pergantian istilah. Perubahan tersebut akan berimplikasi pada bangun teoretis yang perlu dikembangkan untuk mendukung perubahan nama dari administrasi menjadi manajemen, misalnya menyangkut bagaimana akuntabilitas disampaikan, hubungan eksternal, dan konsepsi tentang pemerintahan sendiri yang juga akan turut berubah.

Konsekuensi dari perubahan nama "administrasi publik‟ ke "manajemen publik‟ secara epistimologis juga berpengaruh terhadap cara bagaimana ilmuwan administrasi publik ke depan mengembangkan ilmu ini. Jika selama ini ilmuwan administrasi publik lebih berkutat pada diskusi yang bersifat filosofis tentang administrasi, standar etika dan norma bagi manajer publik dalam menjalankan tugasnya, maka ke depan jika administrasi publik berubah menjadi manajemen publik, orientasi keilmuan dari disiplin ini juga akan bergeser pada hal-hal yang lebih empirikal tentang bagaimana mengembangkan keilmuan untuk membantu manajer publik mencapai tujuan organisasi, bagaimana meningkatkan kemampuan manajerial mereka dan bagaimana meningkatkan akuntabilitas para manajer publik tersebut di depan masyarakat. Untuk itu di masa depan ilmuwan administrasi publik harus memahami:

1. Semakin meningkatnya tekanan terhadap sektor publik untuk melakukan restrukturisasi dan menyerahkan urusan kepada sektor swasta;
2. Bagaimana membuat keputusan yang secara ekonomis menguntungkan dengan mempelajari public choice theory, principal/agent theory dan transaction cost theory;
3. Perubahan-perubahan lingkungan di sektor swasta seperti kompetisi yang semakin meningkat dan globalisasi;
4. Terjadinya perubahan teknologi informasi yang dapat membantu manajer publik untuk menyelesaikan berbagai persoalan mereka sehingga ilmuwan manajemen publik ke depan harus belajar perkembangan teknologi informasi untuk diadopsi menjadi e-government.

Pemikiran untuk mengubah nama "administrasi‟ menjadi "manajemen‟ sebenarnya bukan sesuatu yang aneh jika kita merujuk kembali pada gagasan awal yang dikembangkan oleh Wilson (1887: 16) tentang Ilmu Administrasi yang Ia katakan sebagai berikut: This is why there should be a science of administration which shall seek to straighten the paths of government, to make it business less unbusinesslike. Namun demikian, tentu saja manajemen publik yang dikembangkan oleh ilmuwan administrasi publik di masa mendatang jelas akan berbeda dengan manajemen bisnis sebagaimana dikembangkan oleh ilmuwan di Fakultas Ekonomi dan Bisnis.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
PENGERTIAN AKHLAK, ETIKA, MORAL, MANFAAT, DAN PEMBAGIANNYA
~Pengertian Akhlak
Akhlak berasal dari bahasa Arab bentuk jamak dari Khuluqu/khuluqun yang artinya budi pekerti, perangai, sopan santun, tabiat, adab, dan perbuatan.
Akhlaka adalah perbuatan yang telah tertanam dalam jiwanya sehingga menjadi kepribadiannya. Akhlak yang baik tentunya dilakukan dengan hati yang ikhlas semata-mata karena Allah Swt bukan untuk memperoleh pujian dari seseorang.
~Landasan Akhlak
Landasan Aklak ada dalam Al-Quran diantaranya dalam Surat Al-Alaq: 1-5 dan dalam Surah Al-Kalaam: 4 (Sesungguhnya engkau (Muhammad) benar-benar budi pekerti yang luhur)/ Wainnaka la'alaa huluqin adziim..
~Kedudukan Akhlak

  • 1. Akhlak adalah tujuan utama diangkatnya Nabi Muhammad  menjadi nabi yang diutus kepada manusia;
  • 2. Akhlak merupakan bagian tak terpisahkan dari iman dan akidah;
  • 3. Akhlak berkaitan dengan semua bentuk ibadah;
  • 4.Banyak keutamaan dan pahala besar yang diberikan Allah kepada orang yang berakhlak mulia;

~Manffat Mempelajari Ilmu Akhlak

  • 1. Ilmu akhlak akan meningkatkan derajat kehidupan manusia;
  • 2. Ilmu Akhlak menuntun kepada kebaikan;
  • 3. Tujuan mempelajarai ilmu akhlak akan menyempurnakan iman;
  • 4. Memperoleh keutamaan di hari kemudian;
  • 5. Memenuhi hajat pokok keluarga;
  • 6. Membina kerukunan hidup bertetangga;
  • 7. Membina Remaja;
  • 8. Membina pergaulan umum;
  • 9. Mensukseskan pembangunan negara;
  • 10. Menciptakan keakraban hidup antar bangsa dan negara.
  • ~Pembagian Akhlak

1. Akhlak Mahmudah
Yakni akhlak terpuji atau akhlak yang baik. Contohnya: pemaaf, sabar, ikhlas, menepati janji, qonaah, jujur, penyayang, pemurah, baik hati, husnudzon dan lain sebagainya. Dimana akhlak mahmudah ini semuanya membawa kebaikan dan tidak merugikan orang lain.
2. Akhlak Madzmumah
Yakni akhlak tercela atau perbuatan yang buruk. Contohnya:
Riya’: Beramal atau melakukan suatu perbuatan baik dengan niat untuk dilihat orang atau mendapat pujian orang, dengan kata lain riya’ sama artinya dengan pamer.
Sum’ah:  Melakukan perbuatan atau berkata sesuatu agar didengar oleh orang lain dengan maksud agar namanya dikenal.
Ujub: Mengagumi diri sendiri.

HUBUNGAN ILMU AKHLAK DENGAN ILMU LAINNYA
1. Hubungan Ilmu Akhlak dengan Ilmu Tasawuf
Hubungan ilmu akhlak dengan ilmu tasawuf yaitu ketika mempelajari Tasawuf ternyata pula bahwa Al-Qur’an dan Al-Hadits mementingkan akhlak. Al-Qur’an dan Hadits menekankan kejujuran, persaudaraan, keadilan, tolong menolong, murah hati, pemaaaf, sabar, baik sangka, menepati janji, disiplin, mencintai ilmu, dan berfikiran lurus, nila-nilai ini yang harus dimiliki oleh seorang muslim dan  dimasukkan kedalam dirinya sejak kecil.
2. Hubungan Ilmu Akhlak dengan Ilmu tauhid
Dalam ilmu tauhid ditemukan pembahasan iman dan definisinya, kekufuran dan manifestasinya, serta kemunafikan dan batasannya. Sedangkan ahlak yang baik menurut pandangan Islam haruslah berpijak pada keimanan. Iman tidak sekedar cukup disimpan dalam hati. Melainkan harus dilahirkan dalam perbuatan yang nyata dan dalam bentuk amal shaleh, barulah dikatakan iman itu sempurna, karena telah dapat direalisir.
3. Hubungan Ilmu AKhlak dengan Ilmu Jiwa (Psikologi)
Berbicara dalam hal relevansi dan hubungan ilmu akhlak dengan ilmu psikologi sebenarnya merupakan bahasan yang sangat strategis. Karena antara akhlak dengan ilmu psikologi memiliki hubungan yang sangat kuat dimana, objek sasaran penyidikan psikologi adalah terletak pada domain perasaan, khayal, paham, kamauan, ingatan, cinta dan kenikmatan.[10] Sedangkan akhlak sangat menghajatkan apa yang dibicarakan oleh ilmu jiwa, bahkan ilmu jiwa adalah pendahuluan tertentu bagi akhlak.
4. Hubungan Ilmu Akhlak dengan Ilmu Sosiologi
Mempersoalkan hubungan antara ahlak dengan ilmu sosiologi agaknya sangat signifikan karena ilmu ahlak membahas tentang berbagai perilaku manusia yang ditimbulkan oleh kehendak, yang tidak dapat terlepas dari kajian kehidupan kemasyarakatan yang menjadi kajian ilmu sosiologi.[18] Demikianlah karena manusia tidak dapat hidup kecuali bermasyarakat dan ia tetap menjadi anggota masyarakat. Bukan menjadi kekuasaan kita untuk mengetahui keutamaan seseorang dengan tidak mengetahui masyarakatnya, masyarakat mana yang dapat membantu keutamaan atau merintanginya.
5. Hubungan Ilmu Akhlak dengan Ilmu Pendidikan
Antara ahlak dengan ilmu pendidikan mempunyai hubungan yang sangat mendasar dalam hal teoritik dan pada tatanan praktisnya. sebab, dunia pendidikan sangat besar sekali pengaruhnya terhadap perubahan perilaku, ahlak seseorang. Berbagai ilmu diperkenalkan, agar siswa memahaminya dan dapat melakukan suatu perubahan pada dirinya.  Apabila siswa diberi pelajaran “Ahlak”, pendidikan mengajarkan bagaimana seharusnya manusia itu bertingkah laku, bersikap terhadap sesamanya dan penciptanya (Tuhan).

SEJARAH AKHLAK
Akhlak dalam arti bahasa, sebenarnya sudah dikenal manusia di atas permukaan bumi ini yaitu apa yang disebut dengan istilah adat-istiadat (tradisi) yang dihormati, baik dalam kehidupan pribadi, keluarga dan masyarakat. Dalam keadaan terputusnya wahyu (zaman fatrah) maka tradisi itulah yang dijadikan tolak ukur dan alat penimbangan norma pergaulan kehidupan manusia, terlepas dari segi apakah itu baik atau buruk menurut setelah datang wahyu.
1. Akhlak pada masa Yunani
Dasar yang digunakan para pemikir Yunani daam membangun ilmu akhlak adalah pemikiran filsafat tentang manusia atau pemikiran tentang manusia dan bersifat filosofis yaitu filsafat yang bertumpu pada kajian secara mendalam terhadap potensi kejiwaan yang terdapat dalam diri manusia atau bersifat antroposentris dan mengesankan bahwa akhlak adalah sesuatu yang fitri, yang akan ada bersamaan dengan adanya manusia, dan hasil yang didapatkan berdasar pada logika murni.
Filosof Yunani yang pertama kali mengemukakan pemikiran di bidang akhlak adalah Socrates (469-399 SM). Kemudian diikuti oleh pengikutnya adlaah Cynics dan Cyrenics. Kedua golongan tersebut sama-sama berbicara tentang perbuatan yang baik, utama dan mulia.
Pada masa berikutnya datang Plato (427-347 SM). Plato berpendapat bahwa di dalam jiwa manusia terdapat kekuatan yang bermacam-maam, dan perbuatan yang utama timbul dari kemampuan membuat peimbangan dalam mendayagunakan potensi kejiwaan itu kepada hukum akal
Setelah Plato hadir Aristoteles (394-322 SM). Aristoteles berpendapat bahwa tujuan akhir yang dikehendaki oleh manusia dari apa yang dilakukannya adalah bahagia atau kebahagiaan. Jalan untuk mencapai kebahagiaan itu adalah dengan mempergunakan akal dengan sebaik-baiknya.
Filosof Yunani berikutnya yang terlahir adalah Stoics dan Epicurus (6-140 SM). Keseluruhan ajaran yang dikemukakan oleh mereka adalah bersifat rasionalistik. Penentuan baik dan buruk itu didasarkan pada pendapat akal pikiran yang ada pada diri manusia. Karenanya dapat dikatakan bahwa pemikiran filsafat yang dianut oleh para filosof Yunani ini adalah bersifat antropocentris (memusat pada manusia).

2. Akhlak pada agama Nasrani
Menurut ajaran Nasrani, bahwa agama tersebut adalah bersumber dari akhlak. Tuhanlah yang menentukan dan membentuk patokan-patokan akhlak yang harus dipelihara dan dilaksanakan dalam kehidupan sosial kemasyarakatan. Tuhanlah yang menjelaskan baik dan buruk. Menurut agama ini yang disebut baik adalah perbuatan yang disukai Tuhan, dan sebaliknya yang disebut buruk adalah perbuatan yang tidak disukainya.

3. Akhlak pada bangsa Romawi
Ajaran akhlak yang lahir pada saat ini (abad pertengahan) adalah ajaran akhlak yang dibangun dari perpaduan antara ajaran Yunani dan ajaran Nasrani. Di antara mereka yang terkenal adalah Abelard, Perancis (1079-1142) dan Thomas Aquinas, Italy (1226-1274).

4. Akhlak pada agama islam
Akhlak adalah bagian dari syari’at Islam. Bagian dari perintah-perintah Allah dan larangan-larangan-Nya. Akhlak harus ada serta nampak pada diri setiap muslim, agar sempurna seluruh amal perbuatannya dengan Islam, dan sempurna pula dalam melaksanakan perintah-perintah Allah.
Agama Islam juga mengandung jalan hidup manusia yang paling sempurna dan memuat ajaran yang menuntun umat kepada kebahagiaan dan kesejahteraan. Semua ini terkandung dalam ajaran al-Qur’an yang diturunkan Allah dan ajaran sunnah yang didatangkan dari Nabi muhammad SAW.
Islam memiliki tokoh-tokoh yang sangat berpengaruh dalam perkembangan Ilmu Akhlak. Tokoh-tokoh ini tidak lain adalah Nabi-nabi yang tercatat dan diabadikan dalam kitab suci al-Qur’an.

BAIK DAN BURUK
1. Pengertian Baik dan Buruk
Dari segi bahasa baik adalah terjemahan dari kata khayr (dalam bahasa Arab) yang artinya “ yang baik”, good; best (dalam bahasa Inggris) good = that which is morally right or acceptable sedangkan kebalikan Kata baik adalah buruk, kata buruk sepadan dengan kata syarra, kobikh dalam bahasa Arab dan evil ;bad dalam bahasa Inggris. Dikatakan bahwa yang disebut baik adalah sesuatu yang menimbulkan rasa keharuan dan kepuasan, kesenangan, persesuaian, dan seterusnya1.Bila dihubungkan dengan akhlak, yang dimaksud dengan baik (sebut: akhlaq yang baik) menurut Burhanudin Salam adalah adanya keselarasan antara prilaku manusia dan alam manusia tersebut . Sementara itu, Ahmad Amin menyatakan bahwa perilaku manusia dianggap baik atau buruk bergantung pada tujuan yang dicanangkan oleh pelaku.
Kedua pengertian tersebut tampaknya lebih baik disatukan menjadi satu definisi, sebab definisi pertama lebih memperhatikan akibat dari perilaku yang dihasilkan, sementara definisi kedua lebih menitik beratkan pada tujuan terwujudnya perilaku. Dengan hanya mempertimbangkan tujuan pelaku, seseorang akan cenderung berani melakukan tindakan yang tidak selaras dengan alam dengan dalih bertujuan baik, juga adanya kesulitan mengukur kebenaran tujuan pelaku. Berdasarkan pertimbangan tersebut, barangkali dapat dirumuskan bahwa perilaku yang baik adalah prilaku yang memiliki tujuan baik dan selaras dengan alam manusia.
2. Ukuran Baik dan Buruk
Ukuran baik dan buruk yang dikenal dalam ilmu akhlak antara lain:

  • 1. Nurani;
  • 2. Rasio;
  • 3. Adat ;
  • 4. Pandangan Individu;
  • 5. Norma agama.
  • 3. Aliran-aliran Baik dan Buruk
  • 1. Aliran Hedoisme;
  • 2. Aliran Adat Istiadat ( Sosialisme);
  • 3. Intuition ( Humanisme );
  • 4. Religionisme;
  • 5. Vitalisme;

3. Baik dan Buruk Menurut Ajaran Islam
Ajaran Islam adalah ajaran yang bersumberkan wahyu Allah SWT. Al Qur’an yang dalam penjabarannya dilakukan oleh hadits Nabi Muhammad SAW.
Menurut ajaran Islam penentuan baik dan buruk harus didasarkan pada petunjuk Al Qur’an dan Al Hadits. Jika tidak memperhatikan Al Qur’an dan Al Hadits dapat dijumpai berbagai istilah yang mengacu pada yang baik dan adapula yang mengacu pada yang buruk. Misal Al hasanah dikemukakan oleh Al – Eqghib al Asfahani adalah suatu istilah yang digunakan untuk menunjukkan sesuatu yang disukai atau dipandang baik. Lawan dari al hasanah adalah al sayyiah. Yang termasuk al hasanah missal keuntungan kelapangan rezeki dan kemenangan. Misalnya kita jumpai pada ayat yang artinya: Ajaran manusia menuju Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik. Adapun kata Al birr digunakan untuk menunjukkan pada upaya memperluas/memperbanyak melakukan perbuatan yang baik. Jika kata tersebut digunakan untuk sifat Allah, maka maksudnya adalah bahwa Allah memberikan balasan pahala yang besar, dan jika digunakan untuk manusia, maka yang dimaksud adalah ketaatannya.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Newer Posts
Older Posts

Recent posts

Categories

  • Esai
  • Logo
  • Makalah
  • Opini
  • PPT
  • Recent post
  • Resume
  • Teori
  • Tips-lolos-SBMPTN-cemerlang
  • Tugas

Blog Archive

  • April 2020 (1)
  • Januari 2020 (3)
  • Desember 2019 (1)
  • November 2018 (1)
  • Oktober 2018 (11)
  • Juni 2017 (1)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (11)
  • Maret 2017 (22)

About me

About Me

Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung (Sosiologi)

University of Selangor, Malaysia (Faculty of Education and Social Sciences).

Follow Me

  • facebook
  • Google+
  • instagram
  • pinterest
  • twitter
  • youtube

Created with by ThemeXpose